Senin, 23 Sep 2019
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Gresik

Pengembang Kebingungan, Harga Tanah di Gresik Tak Terkontrol

22 April 2019, 16: 04: 55 WIB | editor : Wijayanto

MAHAL: Harga tanah di Kota Gresik mahal dan tidak terkontrol serta dikeluhkan pengembang.

MAHAL: Harga tanah di Kota Gresik mahal dan tidak terkontrol serta dikeluhkan pengembang. (DOK/RADAR GRESIK)

Share this      

GRESIK - Tingginya harga tanah di Kabupaten Gresik menyebabkan sejumlah pengembang kebingungan untuk membangun perumahan. Pemerintah Kabupaten Gresik juga kewalahan dan tidak bisa mengontrol harga tanah di wilayahnya.

Sejumlah pengembang sebenarnya lokasi yang paling dicari ialah kawasan sekitar Gresik, Manyar dan Kebomas. Harga per meter tanah di wilayah ini bahkan tembus hingga sekitar Rp 7 juta per meter persegi.

Kepala Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan, dan Aset Daerah (DPPKAD) Gresik, Siswadi Aprilianto mengaku harga tanah memang melambung di beberapa lokasi.

Hal tersebut terlihat dalam dokumen transaksi nilai perolehan objek pajak (NPOP) Gresik. Dari lahan yang naik itu, kawasan perumahan paling tinggi.

“Menurut catatan transaksi jual-beli yang masuk ke kami, harga tanah di GKB sudah Rp 8 juta hingga Rp 10 juta per meter,” kata Kepala Dinas DPPKAD Gresik, Siswadi Aprilianto.

Mantan Kadisparta itu menyebut, harga lahan di GKB itu paling tinggi di Gresik. Sebab, kawasan GKB memang masih favorit. Meski demikian, lahan-lahan di kawasan sekitarnya beberapa tahun ikut terangkat. 

Bahkan, kata dia, bukan hanya warga Gresik. Berdasarkan catatannya, warga Surabaya, Sidoarjo, dan Mojokerto terlibat perburuan lahan di kawasan Gresik, terutama di wilayah selatan. 

“Program kami untuk pengembangan perumahan di wilayah selatan turut mendongkrak harga tanah. Di Wringinanom saja, harga tanah sudah sekitar Rp 3 juta per meter.

Sementara di wilayah Suci, Kecamatan Manyar, kini bergerak ke angka Rp 6 jutaan per meter. Itu terjadi karena lahan di kawasan GKB dan tengah kota sudah mulai menipis,” imbuhya. 

Dengan kondisi seperti itu, lanjut Siswadi, Gresik punya potensi kuat untuk meraupun pajak bumi dan bangunannya tinggi. Sebab, kenaikan harga tanah terus meluas ke kawasan lain. Misalnya kawasan Jalan dr Wahidin Sudirohusodo, sekitar RS Ibnu Sina yang kini mencapai Rp 8 juta permeter persegi.

“Saat ini kami masih menghitung perolehan pajak PBB tahun 2018. Semoga penerimaannya diatas target,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Gresik, Koko Wijayanto mengatakan, tingginya harga jual tanah di wilayah Manyar membuat pihaknya nekat berinvestasi hunian di Kecamatan Manyar tahun ini. Rencananya, Enggal Jaya akan membuka kompleks ruko dan perumahan dengan harga premium.

“Harga tanah di Manyar saat ini tembus 5 juta per meter persegi. Padahal, dua tahun lalu, nilai tertinggi harga tanah di masih Rp 1,5 juta per meter. Meskipun begitu kami tetap yakin apabila dijual Rp 7 juta permeter pasti masih ada yang mau beli,” katanya.

Koko menilai banyaknya pengembang di kawasan manyar yang mematok harga tinggi terhadap produk huniannya dikarenakan hanya mengikuti harga pasaran.

Adapun faktor pendorong yang membuat harga lahan terus meroket, diantaranya pembangunan mal dan investasi industri yang begitu masif. 

“Yang saya rasakan masyarakat sangat ingin berinvestasi dalam bentuk lahan. Jadi meskipun dijual harga tinggi, tetap ada yang beli. Sebab kawasan manyar sangat potensial untuk perkembangan industri dimana para pegawainya pasti butuh rumah,” tandasnya. (fir/ris)

(sb/nis/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia