Jumat, 24 May 2019
radarsurabaya
icon featured
Politik Surabaya

Kaum Disabilitas Keluhkan Ketersediaan Alat Bantu Pemilu

19 April 2019, 07: 00: 59 WIB | editor : Abdul Rozack

Para Disabilitas Gelar FGD untuk Evaluasi Pemilu 2019

Para Disabilitas Gelar FGD untuk Evaluasi Pemilu 2019 (Rahmat Sudrajat/Radar Surabaya)

SURABAYA - Sekitar 40  penyandang disabilitas dari berbagai komunitas di Surabaya menggelar focus group discussion (FGD) di Ruang Adi Sukadan, Gedung A Universitas Airlangga, Surabaya, Kamis (18/4). FGD tersebut untuk mengevaluasi pelaksanaan Pemilu 2019 untuk penyandang disabilitas.

Sekretaris panitia FGD Nurul Hikmah mengatakan, kegiatan ini  digelar untuk memetakan persoalan-persoalan yang terjadi pada disabilitas selama pelaksanaan Pemilu 2019. "Masalah yang kita dapatkan dari laporan adalah ketersediaan alat bantu. Jadi template untuk penyandang disabilitas, kertas yang lebih tebal, yang ada tulisan braile sesuai surat suara. Namun dalam pemilu ini hanya tersedia dua template, calon presiden dan calon DPD. Jadi tiga surat suara lain itu tidak ada," kata Nurul kepada Radar Surabaya.

Nurul menyebut, untuk form C3 atau pendamping bagi penyandang disabilitas, ternyata tidak ada pada saat pelaksanaan pemilu. “Padahal form ini penting agar pendamping yang biasanya berasal dari keluarga atau petugas KPPS memiliki legalitas. Namun, ia mengaku meski banyak kendala, semua penyandang disabilitas bisa mencoblos,” jelasnya.

 Hasil dari FGD ini akan dibawa ke KPU di semua tingkatan agar proses pemilu di tahun-tahun berikutnya lebih baik. “Saya berharap masalah yang terjadi pada Pemilu 2019 ini tidak terjadi lagi. Dan pemilu berikutnya bisa menjadi lebih lagi bagi penyandang disabilitas,” harapnya

Sementara itu penyandang disabilitas rabun senja, Danang Nugroho menjelaskan, pada saat dirinya mencoblos di TPS di Wiyung, Danang menyayangkan adanya kurang diperhatikan untuk para disabilitas saat pemilu 2019.

Danang terpaksa tidak bisa menggunakan alat bantu berupa HP pada saat mencoblos di bilik suara. “Ya saya ini kan rabun senja, tiap kali saya melihat sesuatu ya harus menggunakan kamera HP,” ujarnya kepada Radar Surabaya. 

Danang memaklumi atas peraturan dari KPU tersebut. “Pas saya di TPS itu saya mendengar ada peraturan bahwa tidak boleh membawa HP saat masuk bilik suara. Saya takutnya nanti jadi kasus ketika saya membawa HP di bilik suara. Toh saya masih menggunakan hak pilih saya mencoblos,” pungkasnya. (rmt/nur)

(sb/jpg/jek/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia