Rabu, 23 Oct 2019
radarsurabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Surabaya

Makelar Bus Bungurasih Dicokok Edarkan Sabu

18 April 2019, 16: 46: 48 WIB | editor : Wijayanto

SAMPINGAN: Tersangka Siswandi dan barang bukti SS yang diamankan di Mapolrestabes Surabaya.

SAMPINGAN: Tersangka Siswandi dan barang bukti SS yang diamankan di Mapolrestabes Surabaya. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Siswandi, 42, sejatinya masih awam dengan narkoba. Namun, pria yang tinggal di Jalan Bungurasih Timur, Kecamatan Waru, Sidoarjo, tersebut sudah berani mengedarkan sabu-sabu (SS). Minim pengetahuan membuat makelar bus ini mudah terciduk polisi. Dia ditangkap saat mengirim SS di Jalan Siwalankerto Surabaya.

Penangkapan Siswandi dilakukan pada Rabu (10/4). Dia diidentifikasi setelah polisi mendapatkan informasi adanya peredaran narkoba di kawasan Terminal Bungurasih. Informasi itu lantas ditindaklanjuti dengan penyeldikan.

"Hasilnya, kami dapati tersangka hendak mengantarkan SS di kawasan Siwalankerto. Kemudian kami lakukan penangkapan," ungkap Wakasat Resnarkoba Polrestabes Surabaya Kompol Yusuf Wahyu, Rabu (17/4).

Dari penangkapan itu, polisi mengamankan barang bukti 0,87 gram. Sabu itu disimpan Siswandi di dalam saku celana yang dimasukkan ke bungkus rokok. Proses penangkapan tak memperoleh perlawanan tersangka.

"Tersangka tahu kalau itu SS. Namun, ia mengaku SS itu bukanlah miliknya. Dia hanya mengantarkannya saja," terangnya.

Menurut Siswandi, sabu itu diperoleh dari temannya berinisial AD (buron). Sabu itu diberikan di kawasan Jalan Menanggal. Setelah itu, AD meminta tersangka untuk mengantarkan barang haram itu kepada pembeli. Anehnya, tersangka mengaku tak memperoleh bayaran atas kerjaan yang penuh risiko itu.

"Tersangka mengaku jika hanya berniat menolong AD saja," ujarnya.

Sementara itu, tersangka Siswandi mengaku memiliki utang budi dengan AD. Sebab, saat ia butuh uang, AD yang meminjaminya. Dia masih ingat meminjam uang Rp 600 ribu. Namun, saat ia hendak mengembalikan uang, AD menolak. "Dari sanalah saya tersentuh. Makanya, saya sangat berterima kasih sama AD," terangnya.

Siswandi mengaku memang tak dibayar saat pertama kali mengirimkan SS itu kepada pembeli. Hanya saja, pengiriman selanjutnya dia diberikan upah Rp 300 ribu setiap kali kirim.

"Saya baru tiga kali mengirimkan barang milik AD. Saya tidak tahu pasti siapa pembelinya karena semua ditentukan oleh AD," ujar pria yang bekerja sebagai makelar bus itu. (yua/rek)

(sb/yua/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia