Minggu, 08 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Gresik

Pameran Belum Gairahkan Bisnis Properti di Kota Pudak

16 April 2019, 13: 10: 23 WIB | editor : Wijayanto

SEPI: Aktivitas pameran properti di sebuah mall di Gresik terlihat sepi.

SEPI: Aktivitas pameran properti di sebuah mall di Gresik terlihat sepi. (M FIRMANSYAH/RADAR GRESIK)

Share this      

GRESIK - Pengusaha properti di Gresik sedang menahan diri untuk mengikuti pameran perumahan. Ini tidak lepas dari kondisi pasar yang sedang melambat yang berimbas pada penjualan. Kegiatan pameran yang seharunya memberi angin segar nyatanya belum optimal.

Manager Pemasaran De Fortune Cerme, Anang Kurniawan merasakan kondisi pasar properti di Gresik saat ini sedang mengalami perlambatan. Ini dipicu berbagai faktor, mulai dari ketatnya regulasi perbankan, melemahnya daya beli masyarakat hingga mahalnya harga kebutuhan pokok.

“Sementara yang dilakukan pengembang saat ini hanya sebatas sebar bosur dan memberikan penawaran pengadaan rumah kepada segmen korporasi. Kalau pameran dikurangi dulu karena selain mahal juga belum tentu efektif di tengah kondisi melambatnya pasar,” kata Anang.

Dijelaskan, anggota REI Gresik juga lebih memilih untuk menggenjot promosi di media sosial. Cara ini terbukti lebih efektif dan terbilang murah. “Kondisi lambatnya pasar properti kami proyeksikan akan berlangsung hingga semester I/2019. Usai lebaran saya meyakini daya beli akan kembali tumbuh,” jelasnya.

Hal yang sama diungkapkan, Marketing Manager Bumi Lingga Pertiwi, Akhmad Zainul Arif. Dia mengaku saat ini BLP sedang mengurangi kegiatan pameran diluar kota. Kondisi ini tidak lepas dari pasar properti yang sedang melambat.

“Sudah menjadi siklus jika Triwulan I/2019 pasar properti mengalami perlambatan. Tidak salah jika ada sebuah even pameran propeti namun peserta yang ikut hanya sedikit. Daya beli biasanya bergairah pada bulan Agustus hingga Desember,” ungkap Arief.

Kendati mengalami perlambatan, namun BLP tengah menggenjot penjualan hunian komersial seperti ruko. Hal ini dikarenakan daya beli konsumen rumah komersial tidak terpengaruh kondisi pasar. “Rata-rata konsumen hunian komersial merupakan kalangan pengusaha yang memiliki dana lebih sehingga tidak terpengaruh mahalnya harga bahan pokok atau regulasi perbankan,” pungkasnya. (fir/ris)

(sb/fir/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia