Senin, 21 Oct 2019
radarsurabaya
icon featured
Features Sidoarjo
Kampung Literasi Tapak Kali Bendo (Habis)

Siap Diresmikan pada Peringatan Hari Buku Internasional

12 April 2019, 17: 05: 34 WIB | editor : Wijayanto

RINDANG: Warga sedang asik bercengkrama. Bantaran kali Dusun Bendo, Desa Tebel ini diharapkan menjadi pusat kegiatan intelektual.

RINDANG: Warga sedang asik bercengkrama. Bantaran kali Dusun Bendo, Desa Tebel ini diharapkan menjadi pusat kegiatan intelektual. (RIZKY PUTRI PRATIMI/RADAR SURABAYA)

Share this      

Semua upaya yang dilakukan warga RT 1, RW 1 Dusun Bendo mulai dari pembersihan sungai, pembuatan mural, pemberdayaan ekonomi melalui produksi olahan aloe vera, makrame hingga mini library alias mili. Tujuan besarnya adalah keinginan membuat kampung sarat literasi.

RIZKY PUTRI PRATIMI-Wartawan Radar Sidoarjo

KAMPUNG literasi tapak kali bendoo akan diresmikan pada 23 April, melalui Festival Tapak Kali Bendo. Peresmiannya bertepatan dengan peringatan hari buku internasional.  "Dari apa yang dilakukan jelas harus ada ikatan besar, diarahkan ke mana? Targetnya jadi kampung literasi. Literasi baca tulis , literasi kebudayaan dan literasi lingkungan, literasi keuangan, literasi teknologi," jelas Pembina kampung literasi Tapak Kali Bendo dari Perpusatakaan Bait Kata, Iffa Suraiya.

Perpustakaan Bait Kata merupakan penggerak adanya Kampung Literasi Tapak Kali Bendo.  Tapak adalah monument atau jejak. Apa yag semua warga lakukan untuk kampung ini, bisa dinikmati sekarang hingga selamanya dan bisa menjadi jejak sejarah. Kali, adalah sumber kehidupan utama. “Halaman belakang kampung di bantaran kali, bisa menjadi halaman depan. Ini berarti mengubah cara berpikir,” tambahnya.

Sedangkan Bendo adalah tanaman langka yang dulu banyak dijumpai disana.  Salah satu penghormatan terhadap tetua di kampung tersebut.  Dalam satu sisi pengembangan infrastruktur ini semakin baik, warga akan terus mengarahkan kampung pojok ini menjadi pusat perkembangan intelektual. Direncanakan, segala kegiatan yang mengasah intelektual tersebut berada disepanjang bantaran sungai ini, lalu menyebar ke seluruh lorong-lorong pemukiman yang ada.

Dengan  mengembangkan workshop kepenulisan untuk mendorong lahirnya writterpreneur. Bahwa menulis itu bisa jadi profesi. Bisa menghasilkan novel, cerpen, skenario film dan lain sebagainya. Kemudian akan ada workshop keterampilan, workshop parenting, pusat bermain permainan tradisional seperti egrang, dakon, terompah kayu bahkan belajar alat musik tradisional seperti angklung.

“Makrame, aloe vera yang dijual secara online, bayangkan ibu-ibu sudah melakukan literasi teknologi dan keuangan. Anak-anak kita ajak baca disini, workshop yang digelar nanti akan digelarkan tikar, santai duduk-duduk dibawah dengan udara yang bagus, lingkungan bersih. Saya kira ini bisa terwujud,” tutupnya.  (*/nis)

(sb/jpg/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia