Senin, 21 Oct 2019
radarsurabaya
icon featured
Lifestyle Surabaya

Mata Adil Mata Takdir, Gambaran Perpecahan Akibat Perbedaan Politik

12 April 2019, 10: 00: 59 WIB | editor : Abdul Rozack

REALITA KEHIDUPAN: Salah satu adegan dalam pementasan teater dengan judul Mata Adil Mata Takdir yang disutradarai Totenk MT Rusmawan yang dimainkan di

REALITA KEHIDUPAN: Salah satu adegan dalam pementasan teater dengan judul Mata Adil Mata Takdir yang disutradarai Totenk MT Rusmawan yang dimainkan di Gedung Kesenian Cak Durasim, Rabu (10/4) malam. (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

Share this      

GENTENG KALI - Mata adalah sosok perempuan cerdas. Dia mempunyai wawasan dan pergaulan luas dengan daya baca tinggi. Saat itulah dia berpikir untuk menjadi penari di tempat hiburan malam dan model internasional. Mata juga menjadi mata-mata politik pemerintah dan oposisi. Kemudian timbulah perang saudara. Mata dianggap sebagai aktor intelektual dari perang tersebut dan menjadi public enemy bagi para penguasa negeri. Setelah melewati berbagai penyidikan pengadilan. Mata divonis sebagai terdakwa aktor intelektual terjadinya perang dan dihukum mati. Dengan adanya eksekusi mati muncullah gerakan demonstrasi.

Itulah sekilas cerita pementasan teater yang berjudul Mata Adil Mata Takdir. Ide cerita teater yang merupakan karya dan disutradarai oleh Totenk MT Rusmawan ini terinspirasi dari buku Mata Adil Matahari, si agen ganda di perang dunia I tetapi dipindahkan ke tahun 2050. 

“Secara sadar atau tidak, dalam setiap kontestasi politik, pilihan atau pandangan kita akan terbelah. Dan hal tersebut sangatlah wajar. Naskah ini saya tawarkan kepada masyarakat sebagai pengingat agar segala macam perbedaan, tidak menjadi embrio dari perpecahan,” terang Totenk di Gedung Kesenian Cak Durasim, Kamis (10/4).

Dalam pementasan yang berdurasi 75 menit yang menggandeng Sanggar Lidi Surabaya, penonton disuguhkan tragedi sosial politik, hukum, dan agama. Dengan membawakan 13 adegan yang diperankan oleh 35 aktor, pria kelahiran Kota Bandung 32 tahun silam ini ingin memberikan sebuah pesan imajinatif, yaitu sebuah keadaan bangsa yang akan terkena dampak atau akibat jika telah hilang sikap toleransi antar masyarakat. (rmt/nur)

(sb/jpg/jek/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia