Minggu, 23 Feb 2020
radarsurabaya
icon featured
Iso Ae

Tak Terima Pelakor Sepupu Ipar yang Matre

11 April 2019, 01: 55: 59 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi Iso Ae

Ilustrasi Iso Ae (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

Share this      

Bagi para penjelajah cinta, punya istri satu yang cantik dan terawat tetap tak cukup. Ya seperti Donwori, 55, ini. Untungnya kok kaya. Jadi bisa ngebosi banyak perempuan tanpa takut kantong jebol. 

Ismaul Choiriyah-Wartawan Radar Surabaya 

Sebagai istri, Karin, 51, juga sudah maklum dengan kelakuan suaminya. Menjadi pendamping hidup Donwori selama 33 tahun, ia sudah terbiasa dilimakan. Bahkan, ia juga tak kaget jika ada ABG cabe-cabean yang mau dipacari Donwori demi uang.

Namun akhirnya ia muntab juga karena yang dipacari Donwori adalah adik sepupunya sendiri.  "Bojoku ancene doyan wedokan, Mbak. Tapi, yo gak pantes lek sampek dulur dewe digendak menisan," ceritanya, di ruang tunggu Pengadilan Agama (PA) Klas 1A Surabaya, kemarin (9/4).

Perselingkuhan ini ketahuan dengan cara yang mengejutkan. Di suatu petang pukul tiga pagi, Donwori mendapat telepon berkali-kali. Karena dasar Donwori yang tidur seperti kerbau, panggilan berkali-kali itu tak sedikit pun mengubah posisi tidurnya. Malah Karin yang berada di samping terbangun dan mengangkat penelepon tak tahu waktu ini.

Belum sempat Karin berkata "halo", lawan bicara di seberang sudah menyerocos panjang. Di awal dia merengek minta dikirimi uang belanjaan. Ia kemudian mengingatkan Donwori akan janjinya untuk bertemu di sebuah hotel.

Sebelum menutup telepon, suara di seberang ini bahkan sempat mengolok Karin. "Gak sadar aku sing ngangkat. Dekne ngilokno aku. Jare dekne telepon, aku gak krungu ta? Wes embah-embah. Senengane muring-muring ae kok cek betahe," lanjutnya kian jengkel.

Awalnya, Karin tak sadar siapa orang di seberang yang sedang menyerocos panjang itu. Suaranya familiar, katanya. Tapi, ia tak ingat siapa. Setelah kesadarannya terkumpul, baru ia mengecek kontak perempuan yang sedang menelepon ini. Betapa terkejut Karin mengetahui nama Sephia yang tertulis di kontak penelepon itu. 

Tanpa ba bi bu, atau bahasa jawanya gak kedawan lakon, Karin langsung keluar rumah menuju rumah sepupu pelakor ini. Dan terjadilah perang saudara di pagi buta, yang Donwori sendiri belum terbangun kala itu. 

Tanpa malu, Karin juga berteriak-teriak di halaman depan rumah Karin. Membuat keributan dan memancing kerumunan. Ia mengata-ngatai Sephia matre dan gak tahu sopan.

Tak terima dipermalukan, Sephia juga marah-marah. Ia katakan Donwori sendiri yang mendekatinya terlebih dahulu. Bahkan tanpa sungkan Sephia mengolok-ngoloknya dengan istilah Mak Lampir kasar, tak heran cinta Donwori luntur. 

Dalam proses saling olok itu, keluarlah Donjuan, suami Sephia yang menurut Karin tak lebih dari gombal amoh. Kerjaannya klimbrak-klimbruk tak bisa nafkahi istri. Tapi, belum juga Donjuan melerai, Sephia sudah memberikan skak mat.

"Meneng kon. Mbok pikir pangananmu bendino duwit tekan endi, lek gak olehe ngelonte ngene," ucap Karin menirukan Sephia. Diikuti dengan olokan tiada henti.

"Ancene keluarga aneh. Sing lanang yo ruwet. Gak heran bojone yo ruwet," sambungnya.

Setelah perselisihan itu, Karin langsung mengurus perceraiannya. Hingga bertemu dengan Radar Surabaya ini. Namun ketika ditanya sudah masuk ke tahap persidangan apa, jawaban Karin mencengangkan. "Ora, iki mau ape narik gugatan, Mbak. Balek damai wae," celetuknya tanpa dosa.

Rupanya, Karin belum cukup rela menceraikan Donwori, si pemborong kaya itu. Meski tak hanya barang, perempuan juga ikut diborongnya. (*/opi) 

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia