Jumat, 24 May 2019
radarsurabaya
icon featured
Iso Ae

Suami Istri Beda Pilihan Politik, Rumah Tangga pun Buyar

10 April 2019, 01: 15: 59 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi Iso Ae

Ilustrasi Iso Ae (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

Jangan bawa-bawa politik ke rumah kalau tak ingin rumah tangga ambyar. Seperti Karin, 32, dan Donwori, 35, ini. Yang harus kukut pernikahannya gara-gara beda pilihan calon presiden (capres).

Ismaul Choiriyah-Wartawan Radar Surabaya

Sebagai penganut NU garis keras, tentu saja Donwori menginginkan pemimpin negara yang juga sealiran. Itulah sebabnya dia akan memilih pasangan calon (paslon) presiden yang ada kiainya. Sayangnya, lain Donwori lain juga Karin. Meskipun tak kurang-kurang Donwori menyakinkan, Karin tetap teguh pendirian, dengan memilih paslon yang lainnya. 

Dulu awalnya Donwori yakin perbedaan pilihan ini hanyalah masalah waktu. Sayangnya, pendirian Karin tidak goyah. Bahkan kepada keluarga, Karin mulai blak-blakan mengumbar pilihan politiknya. Sungguh perbuatan yang pantas disebut kurang kerjaan.

Sikap Karin ini memicu kegeraman keluarga. Juga kegeraman Donwori. "Aku kepala rumah tangga. Haruse kan istri ngikut opo omongane suami," kata Donwori meyakinkan, di ruang tunggu Pengadilan Agama (PA) Klas 1A Surabaya, akhir pekan lalu. 

Omelan ini merembet pada masalah rumah tangga. Sebenarnya, perbedaan pandangan politik antara Donwori dan Karin, tak hanya terjadi sekali. Tapi, sering. 

Bahkan, secara blak-blakan, Donwori  mengatakan bahwa antara dia dan Karin berbeda aliran. Donwori oang NU, sementara Karin Muhammadiyah. Sejak awal pernikahan, keduanya tidak mempermasalahkan perbedaan itu. Toh masih seagama. Sama-sama Islam. Donwori tetap pada alirannya, pun dengan Karin. 

Namun seiring waktu, perbedaan tradisi antara keduanya makin terlihat jelas. Dari yang paling sederhana perihal cara ibadah, hingga yang paling terlihat yaitu tradisi bancakan yang sering dilakukan umat NU. 

Bagi Donwori, selamatan kematian bukan hanya sebagai ritual mendoakan keluarga yang telah berpulang. Namun lebih dari itu. Dalam keluarganya, tradisi selamatan ia jadikan sarana mengumpulkan keluarga jauh. Dan karena acara ini juga, keduanya sering terlibat gesekan. 

Ketika diajak berkumpul, misalnya, Karin selalu menolak. Alhasil, dalam acara kumpul keluarga itu, hanya keluarga Donwori yang tak lengkap formasinya."Sampek mbahku meninggal, dekne (Karin, Red) yo mung nglayat. Dulur-dulur repot tahlilan bendino, ya gak diinceng blas," curhat Donwori.

Perbedaan-perbedaan pandangan ini semakin rancu ketika dihadapkan pada cara mendidik anak. Donwori dan Karin sering engkel-engkelan, karena ingin mendidik dengan cara masing-masing, yang sayangnya berseberangan.

Setelah melalui berbagai perbedaan, dan dibumbui dengan perbedaan pilihan politik (yang sebenarnya tak perlu dibesar-besarkan) inilah,  akhirnya pasutri enam tahun ini memutuskan untuk berpisah. "Aku iki imam, lho. Kudune bojo ya manut aku," tegasnya lagi, mengulang kata-kata "imam" berkali-kali. 

Mas Wori dan Mbak Karin harusnya sering-sering mendengar lagunya Ari Lasso yang baru, Tak Harus Sama. Aku tak sama denganmu. Kamu tak sama denganku. Kita semua tak harus sama. (*/opi)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia