Jumat, 06 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Iso Ae

Dianggap Menantu yang Gagal Tak Bisa Dekati Mertua

09 April 2019, 02: 26: 39 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi Iso Ae

Ilustrasi Iso Ae (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

Share this      

Sudah sepatutnya seorang menantu berusaha mengambil hati mertua. Tak melulu diwujudkan dengan memberi barang. Bersikap manis lah setidaknya. Namun, bagi menantu saat ini, sekadar melakukan opsi kedua saja susah sekali agaknya dilakukan. 

Ismaul Choiriyah-Wartawan Radar Surabaya

SEPERTI Karin, 27, ini. Sudah enak mendapat mertua sabar, tetap saja dia menjaga jarak. Jangankan untuk membantu pekerjaan rumah, mengobrol saja enggan.

Tentu saja sikap nyeleneh Karin membuat Donwori nelangsa. Sebagai anak satu-satunya, Donwori ingin istrinya juga mencintai ibunya seperti dirinya. Tapi Karin cuek-cuek saja.

"Ora ono opo-opo (antara Karin dan ibunya, Red). Yo gak tau ngersulo. Aneh, kok," ungkap Donwori di bawah tenda panas, depan kantor pengacara di kawasan Pengadilan Agama (PA) Klas 1A Surabaya, kemarin. 

Meski tak pernah diungkap dengan kata-kata, kerenggangan itu jelas terwujud melalui kebiasaan sehari-hari. Menikahi Karin tiga tahun lamanya, Donwori sudah hafal ritme sang istri. 

Karin selalu bangun di penghujung subuh. Ia kemudian langsung menuju kamar mandi, siap-siap, dan cuuusss berangkat kerja. Tanpa menghiraukan  mertuanya yang sedang repot di dapur.

Pun ketika pulang sore harinya, Karin akan langsung masuk kamar dan sibuk dengan handphone. Tidak ada inisiatif untuk membantu sedikit pekerjaan mertuanya.

Tapi ketika diingatkan, Karin selalu ngambek daan diam berhari-hari. "Kudune ngerti moro tuwo nyapu, dekne lak age-age ngganteni. Lha iki gak. Blas ora ngawaki," sambungnya. 

Belum lagi ketika Karin kebagian rezeki. Karin juga tak pernah berbagi dengan mertuanya. Sekadar membeli makanan enak saja, selalu Karin bawa ke kamar. Dimakan di kamar, biar gak ketahuan mertuanya. Sama sekali tidak menawari orang tua. Giliran Donwori membelikan ini itu pada orang tua sendiri, Karin akan marah-marah. Keluar galaknya.

Padahal, istilahnya, orang tua Donwori  bukanlah tipikal mertua galak. Juga bukan mertua nyinyir. Tidak dibantu, juga tak marah. Tak diorangkan, juga diam saja. Tidak dikasih duit, juga gak minta. Malah saudara-saudara sepupu Donwori yang geram melihat mertua yang sabarnya keteraluan ini.

Karena tidak tega melihat orang tuanya yang terus diperlakukan tak pantas, akhirnya Donwori menjatuhkan talak. "Ibuk sih gak popo, bapak sing nelongso nduwe mantu siji ae nyawang mertuo koyo musuh," curhat Donwori.

Baru di hadapan hakim Karin blak-blak an mengenai sikapnya. Sejak awal perkenalan dengan mertuanya, Karin merasa dia tidak diterima. Akhirnya Karin memilih diam dan menutup diri. Demi mendengar jawaban inj, Donwori keheranan sendiri.

Karena selama ini, orang tuanya tak pernah ada pikiran buruk tentang Karin. Hanya akan bicara ketika diperlukan. Eh, lha kok  diartikan beda menantunya. 

Ingat Mbak Karin, kalau pacaran itu cukup ada dua cinta. Cinta sampeyan dan Donwori. Tapi kalau menikah, dibutuhkan banyak cinta. Mbak Karin harus mencintai semua keluarga Donwori. (*/opi)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia