Minggu, 08 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Surabaya

EWS Kurang, BPBD Jatim Optimalkan Desa Tangguh Bencana

06 April 2019, 13: 56: 58 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi

Ilustrasi (NET)

Share this      

SURABAYA - Keberadaan alat pendeteksi dini bencana  atau EWS (early warning system) masih menjadi pekerjaan rumah Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Dari 2.742 desa rawan bencana hanya tersedia 81 EWS.

"EWS ini terpasang di wilayah yang rawan bencana seperti banjir, tsunami dan tanah longsor. Hanya saja dari 81 EWS yang berfungsi hanya 46 unit. Nanti akan kita selesaikan untuk EWS ini," kata kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim Suban Wahyudiono.

Menurutnya sebagian EWS tersebut merupakan hibah dari Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Jatim. Suban mengaku juga belum mengetahui penyebab tidak berfungsinya EWS tersebut. "Memang sempat ada usulan dengan menggunakan alat seperti baterai untuk antisipasi jika listrik padam. Namun hal tersebut juga masih mempertimbangkan anggaran," katanya.

Untuk mengatasi kekurangan EWS, Suban mengaku telah membentuk desa-desa tangguh yang siaga bencana. Desa yang sudah dipetakan ini dapat mandiri ketika menghadapi bencana. "Mereka tahu harus bagaimana saat terjadi bencana," ujarnya. "Kami memberikan pelatihan-pelatihan kepada masyarakat khususnya karang taruna di setiap desa untuk tanggap terhadap bencana. Artinya mereka menjadi orang yang paling depan memberikan informasi kepada warga ketika terjadi bencana.," imbuhnya.

BPBD Jatim memetakan setidaknya ada 12 ancaman bencana alam di Jatim. Seperti, banjir, tanah longsor, puting beliung dan gempa bumi. Sebagai provinsi yang berada di dua lempeng tektonik antara lempeng Indonesia dengan Australia membuatnya rawan gempa bumi. Belum lagi tujuh gunung api yang mengancam, serta potensi tsunami di 3.948 kilometer di pesisi pantai.

Sementara itu Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa sepakat dengan langkah preventif yang dilakukan BPBD Jatim dengan membentuk desa tangguh bencana. Sejauh ini sudah ada 310 desa tangguh dan kampung siaga bencana.

Jumlah tersebut akan terus bertambah karena masih banyak desa yang masuk kategori rawan bencana. "Ada 2.700 lebih desa yang masuk kategori rawan bencana," pungkasnya. (mus/rak)

(sb/mus/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia