Sabtu, 25 Jan 2020
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Produsen Garam Wajib Fortifikasi Yodium Demi Cegah Stunting

05 April 2019, 17: 33: 51 WIB | editor : Wijayanto

ADA LANDASAN HUKUM: Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Alam dan Jasa Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman Agung Kuswandono saat pemaparan di F

ADA LANDASAN HUKUM: Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Alam dan Jasa Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman Agung Kuswandono saat pemaparan di FGD Fortifikasi Garam Pangan di Hotel Fairfield Marriott, Kamis (4/4). (HERNINDA CINTIA/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA – Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman kian fokus pada peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) melalui perbaikan kualitas nutrisi, salah satunya tentang produsen garam wajib fortifikasi yodium.

Melalui Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Alam dan Jasa, pihaknya mendorong peningkatan kualitas SDM, salah satunya melalui fortifikasi yodium pada garam konsumsi yang beredar di Indonesia.

Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Alam dan Jasa Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman Agung Kuswandono mengungkapkan, selama ini meski sudah ada landasan hukum soal produsen garam yang wajib fortifikasi yodium, namun dalam pelaksanaanya siapa yang bakal mengawasi program ini, masih belum jelas.

Selama ini memang sudah banyak garam beryodium yang muncul di pasaran. Namun berapa jumlah yodium yang ditambahkan dalam garam dan siapa yang mengawasi masih menjadi pertanyaan. "Contohnya garam yang diproduksi oleh Usaha Kecil dan Menengah (UMKM) yang juga memproduksi garam. Pertanyaannya apakah mereka juga sudah melakukan fortifikasi yodium dalam produk garamnya?," ujarnya dalam forum group discussion (FGD) Fortifikasi Garam Pangan: Harmonisasi Tujuan Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat dan Debottlenecking Upaya Peningkatan Nilai Tambah Produk Pergaraman di Hotel Fairfield Marriott, Kamis (4/4).

Menurutnya, UKM yang memproduksi garam juga harus mendapat perhatian dari pemerintah deerah setempat. Pasalnya, ada banyak sekali yang harus diawasi, mulai dari proses pemberian yodium sampai proses pemasarannya.

Agung menambahkan, fortifikasi yodium pada garam konsumsi ini erat sekali kaitannya dengan fenomena stunting (kondisi gagal tumbuh kembang pada balita) di Indonesia yang sudah mengkhawatirkan. Tercatat pada 2013 lalu, sebanyak 37 persen anak Indonesia dibawah usia 5 tahun atau lebih kurang 9 juta anak mengalami stunting. Namun angka itu berangsur pulih di tahun 2018 karena terjadi penurunan sebanyak 6,2 persen dari tahun 2013.

"Organisasi Kesehatan Dunia (WHO, Red) sendiri mendorong upaya pencegahan defisiensi yodium melalui fortifikasi yodium pada bahan pangan. Karena fortifikasi yodium pada garam konsumsi dapat mencegah masalah stunting di Indonesia," pungkasnya. (cin/nur)

(sb/cin/jay/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia