Jumat, 06 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Surabaya

Khofifah-Emil Mulai Masuk Program 33 Hari Tahap II

04 April 2019, 23: 36: 39 WIB | editor : Wijayanto

MENUJU 100 HARI: Gubernur Khofifah dan Wagub Emil Dardak.

MENUJU 100 HARI: Gubernur Khofifah dan Wagub Emil Dardak. (DOK/JPC)

Share this      

SURABAYA - Pemerintahan Khofifah Indar Parawansa dan Emil Elestianto Dardak sudah memasuki 33 hari tahap kedua  sebagai bagian dari program 99 hari pertama Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur, sejak dilantik pada Rabu (13/2) lalu di Istana Presiden.

Menurut Emil Elestianto Dardak, semua program pada 33 hari tahap pertama sudah terlaksana. Kini mereka melanjutkan program yang ditargetkan tercapai pada 33 hari tahap kedua.

"33 hari pertama, Alhamdulillah, semua terlaksana. Seperti MoU dengan pengusaha di wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas, Adopsi Sungai Wilayah DAS Brantas, kemudian Kopilaborasi pertama dengan organisasi-organisasi pemuda," ujarnya di Gedung Negara Grahadi.

Penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dengan pelaku usaha di wilayah DAS Brantas sebenarnya merupakan bagian dari Program Adopsi Sungai Brantas sebagai perwujudan dari beberapa program Nawa Bhakti Satya.

Program Adopsi Sungai Brantas ini adalah turunan dari Bhakti Jatim Agro, Jatim Sehat, dan Jatim Harmoni dalam Nawa Bhakti Satya, yang tujuannya untuk mengembalikan sungai sebagai sumber kehidupan.

MoU dengan pelaku usaha di wilayah DAS Brantas bertujuan untuk mewujudkan lingkungan industri bersih berkelanjutan di wilayah sungai demi menjaga keberlanjutan sungai DAS Brantas. Pelaksanaan MoU ini memang diprioritaskan di 33 hari pertama.

Selain MoU dengan pengusaha, ada dua langkah kerja yang menjadi prioritas Adopsi Sungai Brantas pada 33 hari pertama, yakni "99 Jembatan Sepanjang Sungai Brantas Bebas Popok" dan pengadaan "99 Kontainer Sampah di Sepanjang Sungai Brantas".

Program lain yang disebutkan Emil adalah Kopilaborasi, yakni sarana interaksi Pemprov Jatim dengan warga secara terbuka dalam format informal yang diharapkan menjadi bagian dari perwujudan Complaint Handling System.

"Kami sudah melakukan komunikasi dengan organisasi-organisasi pemuda di Jawa Timur sambil mengenalkan jenis-jenis kopi dari berbagai wilayah di Jawa Timur," ujarnya.

Pada 33 hari pertama ini, Emil juga mengatakan, dia dan Khofifah sedang mematangkan program Tis-Tas yang terdiri dari Pendidikan Gratis dan Berkualitas (Kantistas) dan Kesehatan Gratis dan Berkualitas (Tantiastas).

"Juga PKH plus kepada lansia, kemudian yang menjadi bagian dari Bhakti Jatim Berkah, yakni pencairan tunjangan kehormatan kepada imam masjid, amir masjid, dan hafiz hafizah di Jawa Timur," ujarnya.

Berkaitan dengan Kantistas, program Bantuan Operasional Sekolah Daerah (Bosda) untuk Madrasah Diniyah (Madin) sampai S2. "Itu adalah bagian-bagian dari 33 hari pertama yang sudah kami lakukan," katanya.

Ada pula program Kampung Siaga Bencana (KSB) Berbasis Budaya (Berdaya). Pada 33 hari pertama ini, Khofifah-Emil menargetkan pemetaan budaya di kampung rawan bencana.

Selain itu, mereka juga berkomitmen melakukan perumusan manual penanggulangan bencana, serta penyediaan informasi kebencanaan sesuai kearifan lokal budaya setempat. Juga inventarisasi kajian kebencanaan daerah rawan bencana agar menjadi rekomendasi pengambilan kebijakan.

Berkaitan dengan program tersebut, ada program Karang Taruna Siaga Bencana berbasis budaya (Kencana Berdaya) yang mana pada 33 hari pertama Pemprov akan melakukan bimbingan teknis kepada karang taruna se-Jatim, terutama di daerah rawan bencana.

"Kami tidak bisa mengatakan, program apa yang tersisa, karena dalam 99 hari pertama ini semua harus fokus, semuanya harus berjalan. Misalnya Big Data dan Milenial Job Center yang terus kami matangkan, juga pemberdayaan kawasan selatan," ujarnya. (mus/rak)

(sb/mus/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia