Minggu, 23 Feb 2020
radarsurabaya
icon featured
Surabaya

Hutan Kota di Lempung Bakal Jadi Wisata Edukasi

04 April 2019, 22: 58: 29 WIB | editor : Wijayanto

TEKAN POLUSI: Petugas DKRTH menurunkan bibit pohon yang akan ditanam di hutan kota di kawasan Lempung.

TEKAN POLUSI: Petugas DKRTH menurunkan bibit pohon yang akan ditanam di hutan kota di kawasan Lempung. (RAHMAT SUDRAJAT/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Kawasan sekitar bozem yang ada di RT 2 RW 5 Lempung, Kelurahan Lontar, Sambikerep, Surabaya bakal dipenuhi dengan ratusan pohon dengan tanaman buah.

Ketua RT 2 RW 5 Parianto mengatakan, lahan sekitar 2,5 hektar tersebut sebagaimana instruksi dari Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya akan dijadikan hutan kota sekaligus destinasi wisata edukasi. Dimana sejak dulu kawasan itu sudah difungsikan sebagai hutan kota.

“Bibit pohon buah itu akan ditanam di sini (hutan kota, Red), nanti juga menjadi wisata buah bagi masyarakat sekitar,” ujar Parianto kepada Radar Surabaya, Kamis (4/4).

Selain itu, lokasi hutan yang juga berdekatan dengan salah satu sekolah SMP negeri tersebut juga bisa digunakan menjadi pusat pembelajaran maupun penelitian bagi para pelajar.

“Anak-anak tidak hanya tahu memakan buah saja, tetapi bisa langsung mengenal jenis pohon dan buahnya. Hal ini bisa mendukung pembelajaran mata pelajaran IPA atau tentang tumbuh-tumbuhan,” ujar Hariyanto salah satu guru di sekolah SMP negeri tersebut.

Saat ini, di lahan tersebut sebagain sudah dipenuhi dengan sayuran dan pepohonan yang sudah tumbuh. Ditambah dengan ratusan bibit tanaman buah dari pemkot yang tentunya mendukung keinginan warga yang menjadikan tempat tersebut menjadi tempat wisata dan edukasi bagi masyarakat.

Agar lebih luas, tanah kosong yang sebelumnya ditanami pisang sebelah barat bozem mini juga akan ditanami tanaman berbagai macam buah-buahan.

Kasi Ruang Terbuka Hijau Dinas Kebersihan Ruang Terbuka Hijau (DKRTH) Kota Surabaya Rochim Yuliadi menjelaskan, di wilayah kota Surabaya adanya hutan kota yang termasuk bagian dari ruang terbuka hijau mempunyai pengaruh secara makro sebagai penyeimbang.

Wilayah Surabaya Barat dan Timur memang sengaja dikonsep sebagai paru-paru kota, hal ini karena pusat kota sebagai sumber polutan. Yakni polusi di Surabaya lebih banyak bersumber dari kendaraan bermotor di tengah kota, dengan begitu polusi emisi dapat ditekan dengan adanya hutan kota di pinggira kota.

“Maka dari itu ruang terbuka hijau baik pasif dan aktif di wilayah Surabaya Barat dan Timur bisa menjadi sapu hijaunya polusi kendaraan,” tegas Rochim. (rmt/nur)

(sb/jpg/jay/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia