Senin, 17 Jun 2019
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Berstandar SNI, 11 Pasar Tradisional Dapat Suntikan Rp 44 Miliar

04 April 2019, 17: 21: 36 WIB | editor : Wijayanto

PERLU REVITALISASI FASILITAS: Aktivitas jual beli di Pasar Pabean, Surabaya. Terdapat 2.070 pasar tradisional di Jatim, akan tetapi yang berstandar SN

PERLU REVITALISASI FASILITAS: Aktivitas jual beli di Pasar Pabean, Surabaya. Terdapat 2.070 pasar tradisional di Jatim, akan tetapi yang berstandar SNI baru dua yang terletak di Malang dan Situbondo. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) akan mendorong 11 pasar tradisional yang bakal menerima program revitaliasi menjadi pasar tradisional yang berstandar nasional atau SNI dengan total dana suntikan keseluruhan mencapai Rp 44 miliar.

Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jatim Tri Bagus Sasmito mengatakan, tahun ini pemerintah pusat menganggarkan program revitalisasi pasar tradisional mencapai 1.030 pasar.

"Sedangkan Jatim mendapatkan jatah 11 pasar yang direvitalisasi seperti pasar di Tuban dan Mojokerto. Tapi nanti 11 pasar ini akan kita dorong supaya bisa SNI," terangnya di Surabaya, kemarin.

11 pasar di Jatim yang direvitalisasi adalah Pasar Sayur Bantur di Kabupaten Malang, Pasar Guluk-guluk di Sumenep, Pasar Rojokoyo Banjarejo di Bojonegoro, Pasar Warung Dowo di Kabupaten Pasuruan, dan Pasar Kenduruan di Tuban. Kemudian Pasar Klojen di Lumajang, Pasar Prapanca di Kota Mojokerto, dan Pasar Karangan di Trenggalek.

Selanjutnya, Pasar Kerep di Nganjuk, Pasar Wlingi di Kabupaten Blitar, dan Pasar Paiton di Probolinggo. "Masing-masing pasar yang mendapat suntikan dana untuk revitalisasi sebesar Rp 4 milliar. Seluruhnya bertipe D," ungkapnya.

Nantinya, pasar ini akan diubah berstandar SNI. Dia mengatakan, jumlah pasar tradisional atau pasar rakyat di Jatim tercatat mencapai 2.070 pasar. Namun hingga saat ini baru dua pasar yang sudah SNI, yakni Pasar Oro-Oro Dowo Malang dan Pasar Kapongan Situbondo.

"Memang baru dua pasar, ini karena pasar tradisional kita tidak bisa dipungkiri masih sangat tradisional, bahkan kumuh. Jadi kalau sudah direvitalisasi kan sudah siap menuju SNI," katanya.

Tri Bagus menuturkan, syarat untuk mendapatkan SNI yakni terkait legalitas tanah, bentuk bangunan, lapak harus bagus dan bersih, saluran air lancar, tempat laktasi hingga keberadaan CCTV.

"Begitu juga dengan syarat bagi pengelola pasarnya harus profesional. Seperti yang digambarkan pada pasar modern atau ritel modern supaya pasar tradisional dan modern ini sama-sama lari kencang," jelasnya.

Tri Bagus menambahkan, pasar tradisiomal memang masih memiliki banyak tantangan agar bisa sejalan dengan bertumbuh bersama pasar modern. Di antaranya adalah belum memiliki tempat dagang yang nyaman, branding toko, dan masih menjunjung tinggi nilai sosial budaya saat berbelanja seperti tawar menawar antara pedagang dan pembeli, bahkan bergosip.

"Selain itu, juga ada masalah margin harga. Ini terjadi karena pedagang tidak bisa langsung membeli barang ke pabriknya tapi harus melewati sales kesekian sehingga barang yang dijual toko tradisional cenderung lebih mahal dari toko modern akibat cost logistic," jelasnya.

Sementara, Asosiasi Paguyuban Pedagang Pasar Surabaya (AP3S) Andreas Felix mengungkapkan, memang perdagangan di pasar tradisional sempat terkena imbas adanya pasar modern. Namun, dia bersyukur karena aturan antara ritel modern dan tradisional sudah diatur oleh pemerintah. (cin/nur)

(sb/cin/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia