Senin, 21 Oct 2019
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Produksi Garam Surplus Bisa Topang Industri

26 Maret 2019, 16: 06: 14 WIB | editor : Wijayanto

KUALITAS TAK BEDA JAUH: Petani memanen garam di sebuah lahan di kawasan Benowo, Surabaya.

KUALITAS TAK BEDA JAUH: Petani memanen garam di sebuah lahan di kawasan Benowo, Surabaya. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Himpunan Masyarakat Petani Garam Jawa Timur (HMPG Jatim) mencatatkan jumlah produksi garam nasional sepanjang 2018 mencapai 2,9 juta ton dengan tingkat konsumsi mencapai 1,6 juta ton. Terdapat sisa 1,3 juta ton yang dapat dialihkan ke industri, yang diharapkan kelebihan tersebut mampu menekan impor garam nasional.

Ketua HMPG Jatim Muhammad Hasan mengatakan, pihaknya telah sukses melakukan swasembada garam sejak 2012. Oleh sebab itu, dengan adanya surplus produksi 2018 ini dapat digunakan untuk mensubstitusi kebutuhan garam industri sebanyak 2,3 juta ton. "Sehingga kekurangannya baru bisa impor. Jadi tidak terlalu banyak impor," terangnya.

Hasan berharap, produksi garam 2019 masih cukup bagus, sehingga impor garam industri bisa diturunkan lagi. Ia optimistis, produksi garam sepanjang tahun ini mampu mencapai di atas 3 juta ton. Apalagi jika anomali cuaca normal dan dukungan teknologi yang telah diterapkan. "Bisa menembus 3 koma sekian juta ton," lanjutnya.

Menurutnya, untuk memenuhi kualitas garam industri, dibutuhkan kadar NaCL cukup tinggi. Kadar dari beberapa negara impor yang selama ini masuk ke Indonesia, seperti Australia kandungan NaCL 92,99 persen, India 91,04 persen.

Sebenarnya tidak terlalu jauh kualitasnya jika dibanding garam lokal, yang menurut Dinas Kelautan dan Perikanan Jatim, garam rakyat Sumenep NaCL mencapai 94,10 persen. "Saya yakin kalau sudah diproses, NaCL bisa penuhi seperti garam impor," tuturnya.

Hasan menambahkan, tahun ini masyarakat petambak garam akan memulai produksi pada Juni mendatang. Sehingga tahap persiapan untuk turun ke lahan dimulai pada April akhir hingga bulan Mei, dalam masa perbaikan tata tambak.

Kemudian akhir Juni diperkirakan sudah bisa melakukan produksi awal, dan panen diperkirakan di akhir Juni atau awal Juli sampai bulan November. "Karena bulan Desember sudah mulai memasuki musim hujan lagi," imbuhnya.

Selain itu, sampai saat ini, Jatim menyumbang 60 persen produksi garam nasional. Dengan 12 daerah kabupaten/kota yang menjadi sentra garam. Madura ada empat kabupaten, Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan kabupaten dan kota, Probolinggo, Lamongan, dan Tuban. "Yang paling banyak produksinya Madura, yang juga merupakan lumbung garam nasional," katanya.

Hasan juga berharap, pemerintah juga mengatur tata niaga garam dan mengatur harga pokok penjualan (HPP). Mengingat garam merupakan kebutuhan pokok dan penting yang dibutuhkan di segala sektor.

Oleh karena itu HPP bisa segera ditetapkan agar memberikan perlindungan masyarakat petambak, memberikan jaminan kepastian usaha pada masyarakat petambak. Usulan HMPG Jatim, HPP garam berada di Rp 1.500 per kilogram untuk terendah. Sedangkan tertinggi Rp 2.000 sampai Rp 2.500 per kilogram. "Sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat," pungkasnya. (cin/nur)

(sb/cin/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia