Selasa, 22 Oct 2019
radarsurabaya
icon featured
Surabaya

Penderita TBC Masih Tinggi, Dinkes Giat Temukan Kasus Baru

26 Maret 2019, 15: 19: 18 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi

Ilustrasi (NET)

Share this      

SURABAYA - Tuberculosis atau TBC masih menjadi momok di Indonesia. Dari tahun ke tahun, semakin banyak ditemukan pasien penderita TBC. Indonesia sendiri menempati urutan ketiga dunia dengan jumlah terbanyak. Jawa Timur (Jatim) menempati posisi kedua dengan jumlah temuan 57.014 kasus.

"Jumlah itu, penderita TBC anak yang telah diobati sebesar 3.614 dan penderita yang resistan sebanyak 239 orang," papar Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur (Dinkes Jatim) Kohar Hari Santoso.

Sebenarnya yang perlu diwaspadai adalah pasien yang telah resistan. Karena akan membawa virus TB terus menerus dalam tubuhnya dan kebal terhadap obat TBC umum. Untuk pasien seperti ini, upaya pengobatan yang dilakukan adalah directly observing treatment shortcourse (DOTS). Ini sudah dilakukan lama di rumah sakit dengan memberikan pendampingan pada pasien resistan untuk meminum obatnya. 

Banyaknya temuan ini, paparnya, bukan hanya menandakan di Jatim banyak penderitanya, namun keberhasilan petugas kesehatan menemukan kasus TBC di suatu daerah, dibandingkan dengan jumlah penderita yang diperkirakan pada wilayah tertentu, yang akrab disebut Case Detection Rate (CDR). Di Jatim, capaian CDR tahun 2018 sebanyak 50 persen, diharapkan, tahun ini akan mencapai nilai sempurna dengan CDR 71 persen. 

TBC merupakan penyakit kronis mematikan yang penularannya melalui percikan air liur yang mengandung kuman microbacterium tuberculosis. TBC awalnya menyerang paru-paru, namun lama kelamaan bisa menyebar ke berbagai penyakit lain, seperti meningitis, otak, perut dan kulit. Jika tidak segera ditangani, penyakit ini bisa mengakibatkan kematian.

Untuk itulah, diperlukan kesadaran masyarakat untuk mendeteksi penyakit sejak dini. Beberapa indikasi gejala penderita TBC, di antaranya adalah batuk selama dua minggu berturut-turut, batuk berdarah, nafsu makan dan berat badan turun, suka berkeringat malam, meriang berkepanjangan, sesak nafas. Setelah ditemui beberapa gelaja itu, hendaknya pasien segera memeriksakan dahak ke laboratorium. 

Selain percikan dahak, faktor risiko penularan TBC juga berasal dari berbagai aspek lingkungan. Di antaranya daya tahan tubuh tidak bagus, ada sumber yang membawa penyakit, ventilasi tidak bagus, gizi buruk, tempat banyak orang berkumpul (misalnya pesantren atau lapas) dan perkampungan padat penduduk. Itulah mengapa kota-kota besar di Jatim, seperti Surabaya, Malang dan Jember memiliki angka temuan pasien TBC paling banyak. 

Sejauh ini, Dinkes Jatim tetap berupaya untuk menekan tingginya angka TBC. Di antaranya dengan menggerakkan kader agar menemukan pasien TBC secara lebih luas. Dimulai dari sekitaran orang sakit. 

Dinkes juga bekerjasama dengan Kemenkumham untuk melakukan permeriksaan di lapas. Juga melakukan pendampingan pada poskestren (pos kesehstan pesantren) dimana dua tempat tersebut potensial terjadi penularan. (is/nur)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia