Kamis, 25 Apr 2019
radarsurabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Surabaya

Tilap Uang Nasabah, Bendahara PKK Masuk Penjara

26 Maret 2019, 05: 30: 59 WIB | editor : Wijayanto

TERSANGKA: Umi Solichah di Mapolsek Tegalsari.

TERSANGKA: Umi Solichah di Mapolsek Tegalsari. (ISTIMEWA)

SURABAYA – Dipercaya menjadi bendahara koperasi PKK, Umi Solichah, 48, justru masuk penjara. Perempuan yang tinggal di Jalan Dinoyo Alun-alun 4/10 Surabaya itu terbukti menggelapkan uang milik Ernawati, 47, warga Jalan Dinoyo Alun-Alun Gang 1 yang tak lain adalah nasabah di koperasinya.

Jumlah uang yang digelapkan mencapai ratusan juta. Umi Solichah sudah lama menjadi pengurus koperasi PKK. Namun, setahun terakhir dia dipercaya mengelola uang sebagai bendahara.

Banyak yang tertarik untuk menyimpan uang di koperasi itu. Sebab setiap tahunnya, koperasi menjanjikan keuntungan 10 persen dari sisa hasil usaha (SHU). “Semakin banyak orang meminjam atau menabung maka pembagian SHU-nya juga besar,” ungkap Kapolsek Tegalsari, Kompol David Trio Prasojo, Senin (25/3).

David mengungkapkan, salah satu nasabah yang menyimpan uang di koperasi itu adalah Ernawati. Dia menabung Rp 40 juta dengan harapan bisa memperoleh SHU sekitar Rp 4 juta. Uang yang disetorkan itu, tercatat di buku tabungan korban dengan tanda tangan tersangka.

Namun belum genap setahun, korban hendak mengambil semua uangnya untuk biaya kuliah anaknya. Pada saat korban mendatangi koperasi, uangnya sudah tidak ada. Tersangka pun sempat membujuk korban untuk menunda pengambilan uang. “Korban pun melapor ke ketua RW. Karena jumlah uangnya cukup banyak, akhirnya ketua RW pun menyerahkan kasus ini kepada polisi,” ujar David.

Mendapat laporan itu, polisi lantas melakukan penyelidikan dan memeriksa Solichah. Terbukti, jika ibu dua anak itulah yang menggelapkan uang milik korban. Tersangka juga sempat menghilangkan bukti setoran dengan menyobek buku catatan setoran milik korban. Mesk

i terbukti menggelapkan uang, namun saat itu ada upaya mediasi antara tersangka dan korban. Hasil mediasi itu, pelaku diminta untuk membuat surat pernyataan yang berisi kesanggupan pelaku untuk mengembalikan uang itu dalam waktu dua bulan.

“Namun hingga jangka waktunya habis, pelaku tak bisa mengembalikan uang milik korban hingga akhirnya kami amankan dan tetapkan sebagai tersangka,” terang mantan Kapolsek Tambaksari ini.

Lebih lanjut, Kanit Reskrim Polsek Tegalsari, Iptu Zainul Abidin mengatakan, dari hasil pengembangan, tersangka juga pernah melakukan hal yang sama. Bahkan, jumlahnya lebih banyak sekitar Rp 98 juta milik salah satu nasabah. Hanya saja, saat itu ada upaya pengembalian meski tak semuanya berbentuk uang tunai.

“Ada yang dibayar dengan kulkas dan perabot rumah tangga lain. Namun karena sudah ada upaya pengembalian, maka penyelidikan berhenti di satu korban yakni Ernawati,” ungkapnya. Sementara itu, Ernawati mengaku nekat menggelapkan uang lantaran butuh biaya untuk biaya hidup sehari. (yua/vga)

(sb/yua/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia