Minggu, 22 Sep 2019
radarsurabaya
icon featured
Surabaya

Edukasi Cinta dan Jaga Rupiah lewat Ludruk

25 Maret 2019, 23: 32: 02 WIB | editor : Wijayanto

INI UPAL: Sejumlah pemain ludruk gabungan Irama Budaya Nusantara dan BI, memerankan lakon Semanggi Suroboyo dengan episode Deloken Disek, saat tampil

INI UPAL: Sejumlah pemain ludruk gabungan Irama Budaya Nusantara dan BI, memerankan lakon Semanggi Suroboyo dengan episode Deloken Disek, saat tampil di Balai Budaya Komplek Balai Pemuda Surabaya, Minggu (23/3). (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Jawa Timur punya cara berbeda dalam mengedukasi masyarakat untuk menerapkan prinsip cinta dan jaga rupiah.

Mereka mengemasnya melalui ludruk Deloken Disek dengan lakon Semanggi Suroboyo yang digelar di Balai Budaya Komplek Balai Pemuda Surabaya, Minggu (24/3). Pemainnya, kolaborasi perkumpulan kesenian ludruk Irama Budaya Sinar Matahari dengan karyawan dari BI.

Lima prinsip dalam menggunakan uang rupiah, antara lain jangan dilipat, jangan dicoret, jangan distapler, jangan diremas, jangan dibasahi dan cara untuk mengecek keaslian uang rupiah dengan metode dilihat, diraba, diterawang (3D), menjadi ide ceritanya.

Pagelaran ini selain menjadi sarana komunikasi kreatif untuk mengkomunikasikan kebijakan BIkepada  masyarakat, juga merupakan wujud komitmen bank sentral mengangkat kembali seni budaya lokal.

“Harapannya, semakin banyak masyarakat yang mencintai dan mendukung ludruk sehingga mampu mendorong perekonomian Jawa Timur melalui sektor pariwisata,” tutur Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Jawa Timur, Difi A. Johansyah.

Ludruk Deloken Disek tersebut adalah karya Meimura , seorang maestro ludruk. Selaku sutradara, ia mengaku senang kesenian tradisional asli Surabaya ini mendapat respons dari pihak dan lembaga pemerintahan, seperti BI. “Saya kira, menarik wisatawan melalui seni pertunjukan akan tercapai di Surabaya dengan kesenian ludruk.  Sebagaimana contoh sandiwara suku Aborigin yang menjadi daya tarik wisata,” jelas Meimura.

Diceritakan, di suatu keluarga sang bapak masih menyimpan uang dalam jangka waktu yang lama di bawah bantal, bukannya di bank. Saat sang bapak membutuhkan uang untuk biaya pernikahan anaknya, ternyata sebagian uang telah habis masa edarnya, ada yang rusak, dan palsu. Ludruk ini berdurasi selama 1,5 jam. (rpp/opi)

(sb/jpg/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia