Minggu, 08 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Surabaya

Berdalih Bela Harga Diri, Pukuli Tukang Parkir

22 Maret 2019, 17: 09: 49 WIB | editor : Wijayanto

TERSANGKA: Permadi Joko Suwarno

TERSANGKA: Permadi Joko Suwarno (YUAN ABADI/RADAR SURABAYA)

Share this      

Surabaya - Umumnya wajah melas dan pucat ditunjukkan tersangka saat menjalani proses hukum. Namun berbeda dengan Permadi Joko Suwarno,29,. Pria yang tinggal di Jalan Kupang Panjaan Gang I, Surabaya ini justru sumringah, bahkan bak model, pria bertato ini justru berpose saat difoto polisi. 

Permadi ditangkap tim unit Reskrim Polsek Tegalsari lantaran menjadi pelaku penganiayaan pada Sabtu (16/3). Dia memukuli tukang parkir, Edy Purwanto Salam. Aksi pemukulan itu dipicu lantaran korban hendak melerai pertengkaran salah satu penjual siomay dengan ayah tersangka. Karena dianggap korban sok-sokan, Permadi lantas menganiaya tukang parkir itu. "Tersangka memukul wajah korban secara berulang-berulang hingga pelipis kiri korban robek," ungkap Kapolsek Tegalsari, Kompol David Trio Prasojo.

Menurut David, pertengkaran antara ayah pelaku dan tukang siomay itu sendiri terjadi di depan rumah tersangka yang hendak digunakan untuk kegiatan kampung. Namun justru digunakan tukang siomay untuk berjualan. Ayah tersangka pun menegur penjual siomay itu untuk tak berjulan disana, namun penjual itu salah paham. "Akhirnya keduanya bertengkar (ayah Permadi dan penjual siomay,Red) saat itulah korban datang melerai," terangnya. 

Setelah dianiaya, korban harus mendapatkan perawatan dan jahitan di pelipisnya yang robek. Karena tak terima, korban melaporkan kasus ini ke polisi. Tak lama setelah laporan dibuat, polisi segera menangkap Permadi di rumahnya. Dia ditangkap tanpa perlawanan. Meski pun ada upaya intimidasi dari keluarga tersangka. "Ayah dan juga tersangka dikenal sebagai preman. Dia mencoba mengintimiadasi, hanya saja kami dengan tegas menangkap dan menahan tersangka," ujar mantan Kapolsek Tambaksari ini. 

Permadi mengaku jengkel dengan perbuatan korban. Sebab dia tak melerai tapi justru menyudutkan ayahnya. Dia semakin naik pitam ketika korban menunjuk-nunjuk muka ayahnya. "Ayah saya jengkel dan sempat bilang sikat. Saya merespon dan langsung menghajar korban," ujarnya.

Alasan dia tak menyesal telah menganiaya korban lantaran ia membela martabat ayahnya yang menjadi orang yang "dianggap" di kampungnya. Selain itu, memukul orang sudah jadi hal biasa bagi pria bertato itu. "Saya tak menyesal. Sudah biasa," ungkap Permadi. (yua/rtn)

(sb/yua/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia