Kamis, 25 Apr 2019
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Industri Properti Garap Sektor Milenial

22 Maret 2019, 16: 58: 26 WIB | editor : Wijayanto

BERKEMBANG: Pembangunan properti apartemen di kawasan Surabaya Barat, diminati konsumen termasuk dari kalangan milenial.

BERKEMBANG: Pembangunan properti apartemen di kawasan Surabaya Barat, diminati konsumen termasuk dari kalangan milenial. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

SURABAYA - Segmen milenial atau mereka yang baru bekerja dan mendapatkan penghasilan akan menjadi segmen utama pasar properti pada tahun ini. Sebab, selama ini sektor ini belum tergarap secara optimal. Padahal, potensi pasarnya dinilai sangat besar.

Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Real Estate Indonesia (REI) Jawa Timur Danny Wahid mengatakan, bila dilihat dari kebutuhan properti yang masih besar, maka kebutuhan itu berasal dari generasi milenial. Pasalnya, generasi ini masih banyak yang belum memiliki rumah.

Apalagi saat ini perbankan pun turut mendorong potensi ini dengan menyiapkan kredit kepemilikan rumah (KPR) milenial. “Memang saat ini trennya demam milenial. Kami juga lebih siap untuk menyambut hal tersebut,” ujarnya di Surabaya, Kamis (21/3).

Selain itu, Danny menyebut, tren perumahan saat ini akan mengarah pada pasar yang lebih meminati rumah yang berukuran kecil seiring dengan terbatasnya lahan yang tersedia. “Rumah yang lebih kecil tentunya harganya akan lebih terjangkau. Ini juga yang akan mendorong minat dari milenial, apalagi pasangan yang baru menikah yang membutuhkan rumah,” lanjutnya.

Namun demikian, terdapat beberapa hal yang harus terus dilakukan guna meningkatkan potensi pada milenial itu sendiri. Seperti membangun mindset milenial bahwa memiliki rumah merupakan kebutuhan pokok dan utama.

Menurut Danny, selama ini pola pikir milenial hanya memikirkan kebutuhan yang konsumtif seperti baju, jam tangan, terutama gadget. Oleh karena itu, pihaknya menghimbau untuk mengubah pemikiran tersebut.

“Agar pola pikir mereka lebih terarah,” tambahnya.

Mengubah pola pikir ini merupakan salah satu upaya sebagai langkah awal untuk milenial agar lebih memiliki kesadaran atas kepemilikan rumah. Selain itu, peran serta orangtua juga dinilai penting untuk membentuk pola pikir tersebut.

“Orangtua juga harus mendorong anak-anaknya untuk memiliki rumah dengan usahanya sendiri. Instansi-instansi yang memiliki karyawan milenial, juga diharapkan mampu mendorong karyawannya untuk memiliki rumah sendiri,” tuturnya.

Danny menyebutkan, saat ini rata-rata rumah milenial bukan sekedar untuk tempat tinggal, tetapi juga untuk tempat bekerja atau usaha. “Memang trennya kawula muda terbiasa bekerja dimana saja. Tapi dengan memiliki rumah, mereka juga memiliki sebuah investasi atau massive incame. Mereka harus tahu bahwa nilai investasi rumah itu berjangka panjang. Sudah banyak contohnya, seorang Bapak yang membeli rumah pada tahun 2010 dengan harga sekian juta tahun ini harganya bisa mencapai 2-3 kali lipat,” imbuhnya.

Apalagi adanya infrastruktur seperti jalan tol dinilai mampu menjadi stimulus bisnis perumahan. Nantinya pola pikir tentang daerah-daerah dimana rumah itu ada juga akan berubah.

Sehingga milenial tidak perlu takut jika jarak rumah itu jauh, karena menurut Danny, setelah daerah-daerah tersebut sudah tersentuh akses jalan seperti tol maka akan berpeluang dimasuki komunitas-komunitas yang kemudian akan menambah nilai investasi di daerah tersebut.

“Tidak ada lagi keluhan jarak yang jauh. Pemerintah juga harus mendorong betul akan hal ini, karena investasi properti sangat luar biasa kapitalisasinya,” pungkasnya. (cin/rud)

(sb/cin/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia