Senin, 23 Sep 2019
radarsurabaya
icon featured
Surabaya
BMKG: Fenomena Halocline

Warga Digemparkan dengan Laut Terbelah di Suramadu

21 Maret 2019, 07: 56: 59 WIB | editor : Wijayanto

FENOMENA: Pengendara di Jembatan Suramdu menyaksikan laut terbelah pasca hujan yang terus mengguyur wilayah Suramadu.

FENOMENA: Pengendara di Jembatan Suramdu menyaksikan laut terbelah pasca hujan yang terus mengguyur wilayah Suramadu. (NET)

Share this      

SURABAYA - Warga melintas di atas Jembatan Suramadu digemparkan dengan fenomena air laut yang terbelah di kawasan tersebut, tepatnya di Selat Madura. Pasalnya sejak kemarin (19/3), terdapat beberapa postingan video adanya fenomena terbelahnya air laut tersebut yang langsung menuai banyak komentar warga net (netizen).Mulanya video ini diposting di akun instagram @ndorobeii dan Mohammad Fahrizal yang mendokumentasikan momen tersebut. Hingga saat ini akun tersebut sudah dilihat sebanyak 80.901 orang.Bersamaan dengan hal tersebut, Kepala Kelompok Forcaster Badan Meteorologi dan Klimatologi  Geofisikia (BMKG) Tanjung Perak II, Ari Widjajanto mengungkapkan bahwa fenomena seperti ini merupakan suatu hal yang wajar dan sudah biasa. Karena pada dasarnya di pesisir sungai terdapat muara sungai yang mengalir ke air laut."Istilah fenomena ini adalah halocline, jadi di laut ada dua jenis mata air yang berbeda," kata Ari saat dikonfirmasi melalui telepon, Rabu (20/3).Adapun faktor yang memengaruhi terjadinya fenomena tersebut adalah intensitas air yang berbeda dari laut (asin) dan daratan (tawar) sehingga memperlambat menyatunya dua jenis air tersebut.Ia mengungkapkan agar air tercampur harus ada faktor yang memaksa untuk mencampur kedua jenis air tersebut. Karena dalam hal ini terdapat dua jenis air yang memiliki perbedaan salinitas (kadar garam) yang berbeda."Jadi misalnya ada kapal yang lewat di kawasan tersebut, maka air akan cepat bercampur," katanya.Menurutnya hal ini terjadi karena kemungkinan terdapat aliran sungai yang meningkat di sekitar Suramadu atau Kalimas yang masuk.Yang jelas jika terdapat dua jenis air yang bertemu dan tidak menyatu, faktor utamanya disebabkan karena massa jenis yang berbeda."Kalau untuk faktor cuaca, aktivitas pembangunan dan lainnya itu masih membutuhkan penelitian lebih lanjut," kata Ari.Selain itu, dosen Teknik Kelautan ITS Wahyudi mengungkapkan bahwa fenomena tersebut hal yang biasa karena ada perbedaan intensitas. Selain itu kemungkinan air yang keruh itu dari permukaan karena hujan yang lama, sehingga membawa sedimen tanah dan lumpur dari daratan. "Yang warnanya biru itu dari laut, sedangkan yang keruh dari darat," katanya.Faktor lamanya penyampuran dua jenis air tersebut disebabkan arus air di tengah laut yang cukup deras. Selain salinitas atau kadar garamnya berbeda yaitu tawar dan asin. Hingga saat ini terdapat beberapa akun yang memposting ulang fenomena pembelahan air laut yang terjadi. (gin/jay)

(sb/gin/jay/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia