Selasa, 22 Oct 2019
radarsurabaya
icon featured
Iso Ae

Njekethek Gagal Dapat Warisan, Jadi Istri Kedua ‘Cuma’ Betah 15 Tahun

21 Maret 2019, 01: 30: 59 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi Iso Ae

Ilustrasi Iso Ae (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

Share this      

Kesabaran perempuan itu ada batasnya. Termasuk pula kesabaran Karin, 35. Menjadi istri kedua selama 15 tahun, akhirnya kesebaran Karin mentok juga. Ia pilih melangkahkan kakinya ke Pengadilan Agama (PA), karena sudah tak tahan dengan sikap tak adil Donwori, 60.

Ismaul Choiriyah-Wartawan Radar Surabaya

Karin menerima lamaran Donwori yang usianya dua kali lipat, karena terpaksa. Terpaksa ingin hidup bahagia. Karena ia sudah tak tahan jika setiap hari harus bergumul dengan kemiskinan. Karin ingin punya tas bagus, baju bermerek, keluar masuk mobil ber-AC, jalan-jalan ke luar negeri, dan punya gelang keroncong yang jumlahnya belasan biji. Dan semua itu bisa segera terwujud jika ia mau menikah dengan Donwori.

Ceritanya, Donwori dan Karin bertentangga. Jarak rumah mereka tak sampai satu kilometer. Karin muda dikenal punya bodi aduhai. Mirip bodi gitar spanyol, meskipun KW1.  Wajahnya juga bikin laki-laki yang menatapnya gemas. Pipinya montok, bibirnya tipis merah ranum, hidung mancung, kulit putih dan rambut  ngandan-ngandan. Ditambah lagi, Karin juga pandai bergaul. 

Salah satu laki-laki yang ikut gemas itu ya si Donwori. Pedagang bawang merah yang kaya raya. Punya lima truk, tiga rumah, dua kos-kosan, satu apartemen dan tiga gudang. Ketika itu usia Karin masih 20-an, sedangkan Donwori sudah 45-an. Donwori juga sudah punya istri. Bahkan anaknya sudah empat.

Tapi, dasar Karin ingin hidup bahagia secara singkat, ketika dipinang Donwori jadi istri kedua, Karin ayo-ayo aja. “Yo wis gak mikir, Mbak. Istri pertama, kedua, ketiga lak podo wae sih. Malah enak dadi istri kedua, lebih banyak disayang dan dikasih duit. Sing penting dinikahi secara sah, ada suratnya. Cik anakku uripe aman,” curhat Karin di sebuah kantor pengacara di Surabaya, belum lama ini. 

Singkat kata singkat cerita, Karin hidup bahagia sebagai istri kedua. Semua itu tak lepas dari kepandaian Karin ‘berkomunikasi’ dengan istri pertama. “Aku sama ibuk (sapaan Karin kepada istri pertama Donwori, Red) itu kompak. Gak pernah eker-ekeran  koyok nok sinetron-seinetron. Ibuk yo sayang ambek aku,” lanjut perempuan kenes ini. 

Tapi, balada datang memporak-porandakan rumah tangga Karin dan Donwori, dua tahun lalu. Hal itu dipicu informasi yang diperoleh Karin, jika Donwori tak menyertakan anaknya dalam susunan ahli waris. “Mosok Agung (anak Karin vs Donwori, Red) gak bakal oleh warisan. Lho Agung iku lho anak sah. Wong aku yo dirabi sah. Kok jare agak bakal diwenehi warisan,” kata Karin dengan nada nyinyir.

Sudah beberapa kali Karin minta kejelasan soal warisan itu ke Donwori. Tapi, Donwori tak pernah mau memberikan kejelasan. Setiap Karin tanya, justru ujung-ujungnya malah pertengkaran. “Sudah dua tahun ini rumah tanggaku ramai terus. Kalau begini terus, ya mending pisah saja. Wong harapanku yo wis gak onok maneh. Mending cari suami lagi saja yang bisa memberikan harapan cerah,” katanya, yakin.

Karin menduga, sikap Donwori itu karena pengaruh istri pertama dan anak-anaknya. Tapi, Karin juga tak mau menuduh tanpa ada bukti. “Sudah biarkan sajalah. Aku  nggak mau ribut. Aku nggak percoyo  yen ibuk setega itu sama aku. Wong wis tak anggep ibukku dewe,” pungkas Karin, pasrah.  (*/opi)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia