Senin, 21 Oct 2019
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Gresik

Triwulan I, Peritel Perhiasan di Gresik Catat Penurunan Sales

20 Maret 2019, 21: 55: 11 WIB | editor : Wijayanto

TURUN: Salah satu gerai perhiasan di Gresik.

TURUN: Salah satu gerai perhiasan di Gresik. (YUDHI DWI ANGGORO/RADAR GRESIK)

Share this      

GRESIK - Sejumlah peritel perhiasan di Kabupaten Gresik mencatat penurunan penjualan pada Triwulan I/2019. Penurunan itu salahsatunya dipicu daya beli masyarakat yang mulai menurun menjelang Pemilu. 

Store Manager Gold Mart Gresik, Eni Rosita mengatakan, selama Januari dan Februari, pihaknya mencatat penjualan rata-rata Rp 150 juta perbulan. Sementara sejak awal Maret hingga pertengahan, jumlah penjualan tercatat hanya Rp 30 juta.

“Kami melihat adanya penurunan daya beli masyarakat menjelang pemilu. Mayoritas user saat ini menahan diri untuk belanja,” kata Eni.  

Dari jumlah itu, kata Eni, penjualan ditopang oleh perhiasan aksesoris seperti cincin dan liontin. Sementara untuk user yang paling banyak membeli berasal dari pengusaha pertanian atau tambak. “Untuk konsumen terbanyak dari Lamongan. Prosentasenya mencapai 70 persen,” jelasnya.

Dia optimis kondisi ini bisa rebound atau kembali seperti semula usai kegiatan pemilu mendatang. Bahkan dia berani mematok angka penjualan tinggi pada bulan Mei dan Juni pada bulan tersebut terdapat momen lebaran Idul Fitri.

“Kami berani mentargetkan tinggi seiring diberikannya tunjangan hari raya (THR). Disamping itu pada momen puasa dan lebaran biasanya daya beli masyarakat cukup tinggi,” tandasnya.

Hal yang sama disampaikan, Account Sales Manager ritel perhiasan UBS, Fitri Indah Lestari. Diakuinya penjualan perhiasan sejak awal Maret mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya. 

“Dibandingkan Triwulan I/2018, tahun ini kondisinya memang turun. Bulan lalu penjualan terdorong momen valentine. Untuk itu kami genjot program promosi khusus bulan kasih sayang,” kata Fitri.

Dijelaskan, selama pameran di Gresik UBS bisa membukukan pendapatan hingga 110 persen dari target yang dicanangkan atau mencapai Rp 100 juta.

“Daya beli masyarakat Gresik cukup besar. Namun memang harus jeli membaca pasar kapan penjualan tinggi dan kapan slow down,” tandasnya. (fir/ris)

(sb/fir/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia