Senin, 14 Oct 2019
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Jelang Pemilu dan Lebaran, Industri Mamin Diprediksi Tumbuh 30 Persen

20 Maret 2019, 00: 59: 03 WIB | editor : Wijayanto

OPTIMIS: Petugas menata snack di salah satu pusat perbelanjaan.

DIDORONG PEMILU DAN LEBARAN: Penjualan produk mamin di salah satu gerai ritel di Surabaya. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Industri makanan dan minuman (mamin) di Jawa Timur (Jatim) tahun ini diprediksi mampu tumbuh hingga 20-30 persen lebih seiring dengan pertumbuhan ekonomi. Selain itu juga adanya potensi peningkatan konsumsi selama momen pemilihan umum (pemilu) maupun Lebaran.

Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (Gapmmi) Jatim Yapto Willy Sinatra mengatakan, pengusaha mamin optimistis selama momen pemilu nanti akan ada kebutuhan konsumsi yang besar terutama, untuk snack-snack dan minuman kemasan. "Kalau industri sepanjang tahun ini kami perkirakan penjualannya bisa tumbuh sekitar 20 persen, tapi itu belum termasuk momen pemilu dan Lebaran," terangnya.

Sedangkan jika ada kedua momen tersebut pihaknya optimistis lebih dari 30 persen. Yapto menuturkan, belajar dari peristiwa bencana gempa dan tsunami di Palu dan Lombok tahun lalu, ternyata kebutuhan atau penyerapan produk makanan dan minuman kemasan pun meningkat tajam. "Namun khusus peristiwa yang ini memang tidak bisa diprediksi, tapi yang terjadi omzet industri mamin kita bertambah saat ada bencana tersebut," ujarnya.

Namun demikian, kata Yapto, industri makanan dan minuman tahun ini diperkirakan tidak akan melakukan stok besar-besaran sebagai antisipasi lonjakan kebutuhan produk makanan dan minuman kemasan.

Menurutnya, industri pun masih wait and see atas momen pemilu dan menanti kebijakan-kebijakan pemerintah yang mendukung pengusaha. Sehingga kali ini belum ingin menambah kapasitas produksi maupun melakukan ekspansi.

"Tetapi khusus industri mamin skala UMKM, saat ini terus berkembang pesat. Banyak bermunculan industri-industri baru dengan menawarkan produk-produk yang unik dan menarik," katanya.

Namun, menurutnya, skala mikro dan kecil masih mengalami hambatan dalam pendaftaran Nomor Izin Edar (NIE) dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) lantaran adanya syarat-syarat yang cukup rumit yang harus dipenuhi.

"Contohnya dimintai sertifikat bahan-bahan baku yang digunakan. Nah ini kebanyaman mereka beli bahannya kan di toko, jadi agak susah. Lalu ada izin usaha industri (IUI) yang dulunya hanya pakai Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT)," jelasnya.

Yapto menambahkan, meski begitu, pemerintah saat ini terus membenahi layanan izin seperti BPOM yang sudah bisa dilakukan dengan cara online. Diharapkan pemerintah selanjutnya yang terpilih dapat menggalakkan industri dari bawah, yakni mikro sampai menemukan solusi dalam menghadapi kendala.

Adapun Gapmmi Jatim saat ini memiliki sekitar 4.000-an anggota. Sebanyak 75 persen di antaranya merupakan industri skala mikro dan kecil, sebanyak 10 persen merupakan industri skala menengah, dan sisanya merupakan industri besar. (cin/nur)

(sb/cin/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia