Senin, 21 Oct 2019
radarsurabaya
icon featured
Surabaya

Penyusutan Lahan Pertanian, Tanah Produktif Perlu Dilindungi

19 Maret 2019, 13: 52: 50 WIB | editor : Wijayanto

PRODUKTIF: Petani menanam bibit padi di salah satu lahan persawahan di wiayah Surabaya barat.

PRODUKTIF: Petani menanam bibit padi di salah satu lahan persawahan di wiayah Surabaya barat. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Lahan pertanian dari waktu ke waktu jumlahnya terus menyusut. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jatim mencatat penyusutan lahan pertanian ini terjadi diantaranya ada kabupaten/kota yang belum memiliki Peraturan Daerah (Perda) Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) untuk melindungi lahan produktif.

Dari 38 Kabupaten/Kota di Jatim, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jatim mencatat hanya 14 daerah yang memiliki perda untuk melindungi lahan produktif. Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jatim Hadi Sulistyo mengatakan penyusutan lahan pertanian sudah banyak beralih fungsi menjadi kawasan industri dan permukiman.

Menurutnya kondisi seperti ini diantisipasi oleh pemerintah provinsi Jatim. Dimana Pemprov Jatim sudah melayangkan surat kepada semua kabupaten kota untuk segera membuat perda RTRW. “Penyusutan lahan produktif ini akan berdampak kepada hasil pangan di Jatim,” katanya.

Ia menegaskan pembebasan lahan produktif untuk perumahan harus dicegah. Namun menurutnya semua kembali ke daerah masing-masing karena Pemprov Jatim tidak memiliki kewenangan untuk melarang. “Kewenangannya berada di tangan pemerintah daerah masing-masing,” terangnya.

Di tempat terpisah, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Surabaya Joestamaji mengatakan di Surabaya saat ini luas sawah tersebar di 13 kecamatan dengan luas lahan 1.141 hektar. Sedangkan untuk tahun 2019 target luas  tanam  sebanyak 2.169 Ha. “Lahan tersebut masih bisa produksi gabah 12.500 ton,” jelasnya.

Joestamadji menambahkan dalam RTRW di Surabaya ada kawasan yang diberi warna hijau. “Artinya tidak boleh dibangun. Selama masih berwarna hijau artinya tetap sebagai lahan produktif,” jelasnya.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Surabaya Darmawan tidak menampik jika lahan produktif di Surabaya semakin menyempit. Surabaya yang dulunya masih banyak lahan pertanian, kini telah banyak bangunan yang berdiri diatas lahan pertanian. Disisi lain, hal ini juga dipengaruhi oleh meningkatnya penduduk, sehingga luas kepemilikan lahan bergeser dari lahan pertanian ke non pertanian. (mus/rud)

(sb/mus/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia