Senin, 21 Oct 2019
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Jelang Ramadan, Impor Kurma Naik 106 Persen

16 Maret 2019, 14: 30: 22 WIB | editor : Wijayanto

JELANG RAMADAN: Pedagang kurma di kawasan Ampel, Surabaya.

JELANG RAMADAN: Pedagang kurma di kawasan Ampel, Surabaya. (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA – Badan Pusat Statistik Jawa Timur (BPS Jatim) mencatatkan impor kurma mulai terlihat meningkat menjelang bulan Ramadhan beberapa bulan ke depan. Sepanjang Februari kemarin, BPS sudah membukukan impor kurma senilai USD 2,34 juta. Jumlah itu meningkat jika dibandingkan Januari 2019 sebesar USD 1,13 juta.

Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS Jatim Satriyo Wibowo mengatakan, impor kurma sudah mulai masuk sejak Januari. Meski belum terlalu besar, namun ia menyebut kenaikannya mulai terlihat hingga 106 persen dari Januari ke Februari. Jumlah itu masih kemungkinan besar bertambah lagi Maret, mengingat awal Mei sudah masuk Ramadan. “Sudah terlihat akan ada terus peningkatan mendekati bulan Ramadan nanti,” ujarnya.

Satriyo menyebutkan, impor kurma biasanya masuk dari Mesir dan Tunisia. Kemudian juga negara Timur Tengah lain. “Cuma nilai pastinya tiap negara berapa belum tahu,” katanya.

Namun demikian, impor buah-buahan yang lain seperti jeruk mandarin dan apel dari Tiongkok mulai menurun. Satriyo menuturkan, impor jeruk mandarin turun hingga 74 persen. “Ya mungkin turun di Januari itu karena mau Imlek jadi turun dari USD 28,98 juta menjadi USD 7,33 juta,” tuturnya.

Sedangkan impor apel juga mengalami penurunan sebesar 37,84 persen, yakni dari USD 18,78 juta ke USD 11,67 juta. Anggur juga turun 38,88 persen, dari USD 4,28 juta menjadi USD 2,62 juta.

Sementara, catatan neraca perdagangan Jatim pada sektor non migas memang sedang dalam tren positif. Sepanjang Februari, pihaknya mencatatkan surplus sebesar USD 169,79. Meningkatnya ekspor perhiasan dan permata menyokong pertumbuhan perdangan luar negeri Jatim. Dari Januari ke Februari meningkat 121,45 persen. “Nilai itu merupakan nilai terbanyak kedua setelah tembaga yang melonjak drastis 305,03 persen,” ujarnya.

Hanya saja, meski surplus, kondisinya tidak belum mampu menolong secara keseluruhan. Digabung dengan sektor migas, neraca perdagangan Februari defisit USD 65,65 juta. “Ini disebabkan karena adanya selisih perdagangan yang negatif pada sektor migasf," sebutnya. (cin/nur)

(sb/cin/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia