Senin, 22 Jul 2019
radarsurabaya
icon featured
Surabaya

Ketika Mahasiswa Asing Membaca Berita Berbahasa Indonesia

15 Maret 2019, 06: 40: 59 WIB | editor : Abdul Rozack

ANTUSIAS: Kamila Barbara, mahasiswi asal Jerman saat membawakan berita berbahasa Indonesia.

ANTUSIAS: Kamila Barbara, mahasiswi asal Jerman saat membawakan berita berbahasa Indonesia. (AJI GUNAWAN/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA – Membaca berita dengan Bahasa Indonesia merupakan hal umum bagi orang Indonesia. Namun, bagaimana bila yang membaca berita dalam Bahasa Indonesia ini adalah pelajar dari luar negeri dengan dialek dan gestur yang berbeda. 

Seperti yang terlihat di Perpustakaan Lantai 5 Kampus Universitas Surabaya (Ubaya) Tenggilis, Kamis (14/3). Sebanyak 60 mahasiswa asing dari 21 negara bertanding lomba membaca berita berbahasa Indonesia yang diselenggarakan oleh Pusat Bahasa Ubaya atau Ubaya Language Center (ULC) bekerja sama dengan Direktorat Kerja Sama Kelembagaan Ubaya. Peserta lomba merupakan mahasiswa asing yang tergabung dalam program Darmasiswa Republik Indonesia 2018/2019.

Perlombaan diikuti oleh mahasiswa Ubaya dan 20 universitas yang tergabung dalam program Darmasiswa, masing-masing mengirimkan perwakilan untuk ikut berpartisipasi. “Salah satu tujuan diadakannya lomba yaitu untuk memperkenalkan program BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing, Red) yang ada di Pusat Bahasa Ubaya. Selain itu, kita dapat mengakrabkan hubungan antara pengelola dan universitas yang tergabung dalam Darmasiswa,” ungkap  Direktur Pusat Bahasa Ubaya Devi Rachmasari.

Salah satu peserta asal Jerman, Kamila Barbara, mengungkapkan, dirinya sedikit kesulitan membacakan berita Bahasa Indonesia. Menrutnya membaca berita berbeda dengan membaca cerita pada umumnya. 

"Senang, tapi sulit karena membaca berita berbeda dengan membaca cerita. Orang Indonesia sangat cepat dalam membaca berita itu juga sulit bagi saya (Kamila)," kata Kamila, mahasiswa Darmasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM). 

Meski demikian, Kamila mengaku,  tetap akan mempelajari Bahasa Indonesia lebih dalam lagi, sebagai bekal keinginannya yang ingin bekerja di kedutaan. 

Selain Kamila, salah satu peserta asal Tiongkok, Liu Tianhui yang juga dari Darmasiswa UGM menuturkan, tata Bahasa Indonesia dan struktur kalimat yang berbeda dengan Tiongkok membuatnya kebingungan dalam memahami maknanya. 

"Nama orang Indonesia yang berbeda dengan Tiongkok, serta urutan-urutan katanya yang berbeda seperti nama saya di sana (Tiongkok, Red) saya nama itu membuat saya kesulitan juga," ujar Liu Tianhui. (aji/nur)

(sb/jpg/jek/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia