Kamis, 14 Nov 2019
radarsurabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Surabaya

Terlibat Judi Online, Tujuh WNA Tiongkok Diadili

14 Maret 2019, 17: 50: 20 WIB | editor : Wijayanto

JUDI: Tiga di antara  WNA Cina yang terlihat duduk di kursi pesakitan ruang sidang Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, bersama seorang penerjemah (baju b

JUDI: Tiga di antara WNA Cina yang terlihat duduk di kursi pesakitan ruang sidang Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, bersama seorang penerjemah (baju batik). (RAHMAT/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Tujuh Warga Negara Asing (WNA) asal Cina menjalani sidang atas kasus judi online.  Mereka  Zhang Liang, Chen Qiwen, Zhou Yi, Guan Guiqiang, dan Guan Uixiang, Gao Xianzhong serta Huang Shengnan yang didwakwa bekerja sama dengan membuat situs judi online.

Dalam sidang tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Nur Rachman menghadirkan saksi Kresna Kusuma Wijaya dari  Ditreskrimsus Polda Jatim. Dalam keterangannya Kresna mengatakan pihaknya mendapat laporan dari masyarakat dan menangkap ketujuh orang tersebut pada tanggal 14 November 2018 di Perum Forest Mansion, Lakarsantri, Surabaya. 

“Saat kami cek ditemukan banyak laptop dan handphone. Lalu, kami periksa di dalamnya terdapat situs bernama Perfect Lotre. Kemudian kami bawa untuk lakukan gelar perkara,” kata Kresna di hadapan ketua majelis hakim, Ane Rusiana.

Situs judi tersebut berkedok game bernama UG, permainan online ini dimainkan oleh beberapa pemain, yang terhubung ke server pusat di Cina. Kemudian setiap pemain mendapat kode angka dari permainan tersebut dan diaplikasikan melalui aplikasi chat ‘Line’. “Modusnya, mengajak bermain dan di sana ada fitur chat, yang bisa berinteraksi. Dan semuanya dari Tionghoa,” jelasnya.

Kresna mengatakan,  ke tujuh WNA  mendapat keuntungan dari game tersebut melalui rekening bank dari Cina. Dan  saat  penggerebekan ditemukan uang senilai Rp 19 juta. 

Melalui penerjemah yang dihadirkan, para tersakwa membenarkan keterangan saksi. Terdakwa  mengira bahwa judi berkedok game itu legal di Indonesia, lantaran di negaranya mereka tidak perlu izin.

Sementara itu, kuasa hukum terdakwa Eko Budiono mengatakan, saat ditangkap kliennya ini belum ada yang melanggar karena izinnya mereka bukan mencari uang di wilayah Indonesia. 

“Mereka bukan mencari uang disini, dari keterangan saksi kan tadi kebanyakan warga Cina sendiri yang banyak mengakses, hanya melanggar izin tempat tinggalnya saja,” kata Eko. 

Eko berharap kliennya cukup dideportasi. “Supaya tidak memenuhi penjara kita nanti, penjara kita kan sudah penuh,” tegasnya. (rmt/nug)

(sb/jpg/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia