Jumat, 26 Apr 2019
radarsurabaya
icon featured
Lifestyle Surabaya

Buktikan Kalau Dosen Juga Punya Karya di FloaThink Harmony

14 Maret 2019, 17: 24: 26 WIB | editor : Wijayanto

PAMERAN SENI RUPA: Valentina Weyland mengamati karya seni rupa keramik karya Jenny Lee dalam pameran FloaThink in Harmony di Galery House of Sampoerna

PAMERAN SENI RUPA: Valentina Weyland mengamati karya seni rupa keramik karya Jenny Lee dalam pameran FloaThink in Harmony di Galery House of Sampoerna. (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

SURABAYA - Tak ingin dianggap sebagai dosen yang hanya pandai teori, kumpulan akademisi dari Universitas Ciputra (UC) Surabaya mengadakan pameran seni bertajuk FloaThink in Harmony. Pameran ini diselenggarakan di Galery Paviliun House of Sampoerna dan diikuti oleh 11 dosen dan tutor. 

"Selama inikan dosen identik cuma di depan kelas ngajar, nyuruh siswanya gambar ini gambar itu, kita juga pengen menunjukan kalau kita berkarya. Mereka (mahasiswa, Red) banyak yang nggak tahu, oh bapak bisa ta menggambar seperti ini," Kata Henry Trisula, dosen desain komunikasi visual dari UC.

FloaThink in Harmony dimaknai dengan bagaimana masyarakat saat ini mengejar dan melayang mengikuti laju perkembangan teknologi, namun di sisi lain timbul harapan untuk tetap menapak pada prinsip budaya dan norma tradisi. Dari satu ide besar ini lahir 30 karya seni dua maupun tiga dimensi dari hasil proses manual maupun digital. 

Salah satunya adalah karya tiga dimensi disampaikan oleh Jenny Lee yang menghasilkan karya berupa kumpulan cangkir keramik. Uniknya, ukiran dalam cangkir dibuat timbul, berisi berbagai kata dan gambar yang mewakili pemikiran-pemikiran pembuatnya yang mengambil peran sebagai dosen perempuan sekaligus ibu rumah tangga dan perempuan biasa. "Rekaman dari mood yang jadi spirit dalam hidup saya," terang Jenny Lee. 

Ada pula karya digital painting yang diciptakan oleh Henry Trisula. Ia menghadirkan lukisan figuratif besar berukuran 60x90 meter bertajuk menuju masa depan, melestarikan masa lalu. Dalam lukisannya terdapat sosok pria menyerupai mengenakan pakaian batik. Uniknya di tangannya ia menggenggam gadget modern. Tokoh itu dikelilingi mahluk legenda berwarna lebih gelap seperti lutung kasarung, buto ijo, garuda dan perewangan lain. "Pesannya meskipun kita sangat modern tapi tidak melupakan jati diri sebagai orang Indonesia," paparnya. (is/nur)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia