Jumat, 26 Apr 2019
radarsurabaya
icon featured
Sidoarjo

Pemkab Diminta Beli Lahan FR Jika Hibah Perusahaan Lambat

14 Maret 2019, 14: 53: 15 WIB | editor : Wijayanto

KENDALA: Lahan frontage road (FR) di Kecamatan Gedangan yang belum dibebaskan.

KENDALA: Lahan frontage road (FR) di Kecamatan Gedangan yang belum dibebaskan. (SATRIA NUGRAHA/RADAR SIDOARJO)

SIDOARJO - Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Sumber Daya Air (DPU BMSDA) Sidoarjo diminta bergerak cepat untuk menuntaskan pembangunan frontage road (FR). Salah satunya dengan membeli lahan milik perusahaan.

Anggota Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) DPRD Sidoarjo  Dhamroni Chludori mengatakan, kebutuhan FR bagi masyarakat sudah sangat mendesak. Sebab, kemacetan jalan dari Waru hingga Buduran sudah parah. “Jika FR rampung maka masyarakat yang akan lega,” katanya.

Dia mengakui, ada banyak hal yang menjadikan pembangunan FR belum bisa rampung. Proyek pembangunan jalan sepanjang 9,2 kilometer itu harus didukung penuh oleh semua stakholder. Termasuk dukungan anggaran yang tidak sedikit. “Kami ingin FR bisa terealisasi secepatnya,” ucap Wakil Ketua Komisi B ini.

Selain itu, masalah pembebasan lahan yang menunggu hibah juga harus segera dipastikan. Dari total 31 perusahaan, saat ini baru 11 perusahaan yang sudah menghibahkan lahannya. Artinya, pemkab harus berupaya keras membujuk 20 perusahaan untuk menyerahkan lahannya.

Namun, kata Dhamroni, jika upaya itu lambat, Pemkab Sidoarjo bisa membeli lahan tersebut tanpa menunggu hibah. Sehingga proses pembebsan lahan bisa cepat rampung tanpa terkendala hibah lahan yang tak kunjung ada kejelasan.

Dhamroni juga meminta agar pemkab membangun jembatan di titik lokasi yang sudah dibebaskan. Sehingga, jika lahan di sekitarnya rampung, maka dinas terkait bisa langsung melakukan pengaspalan. “Pembangunan jembatan prosesnya lama karena itu segera bangun di kawasan yang sudah beres lahannya,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pembangunan Jalan dan Jembatan Dinas PU BMSDA Judi Tetrahastoto mengatakan, pembangunan FR Waru-Jenggolo yang tak kunjung tuntas disebabkan oleh beberapa kendala.

Targetnya, akhir tahun ini jalan sepanjang 9,2 km tersebut bisa digunakan. Namun pembebasan lahan dan pembangunan hingga saat ini belum juga berjalan.

Total ada 202 berkas lahan yang harus dibebaskan. Baik milik perorangan maupun perusahaan. Pembangunan jalannya pun baru dilakukan di Desa Sawotratap. Judi mengatakan, pembebasan lahan saat ini masih dilakukan. Pengukuran sedang dilakukan di beberapa titik. "Hanya Gedangan saja yang belum," katanya.

Meski begitu, Judi optimistis FR tuntas akhir tahun ini. Namun, penambahan anggaran sangat dibutuhkan. Terutama untuk pembangunan fisik. Sebab, tahun ini hanya dianggarkan sebesar Rp 50 miliar. Padahal, menurut dia, pembangunannya membutuhkan anggaran sebesar Rp 150 miliar. (vga/rek)

(sb/vga/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia