Selasa, 22 Oct 2019
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Sales Dalam Negeri Lesu, Ekspor Sepatu Jatim Malah Naik 5 Persen

12 Maret 2019, 17: 16: 47 WIB | editor : Wijayanto

DIDOMINASI TUJUAN AMERIKA: Pengunjung melihat deretan sepatu di salah satu gerai di Tunjungan Plaza, Surabaya. Meskipun pasar dalam negeri tak begitu

DIDOMINASI TUJUAN AMERIKA: Pengunjung melihat deretan sepatu di salah satu gerai di Tunjungan Plaza, Surabaya. Meskipun pasar dalam negeri tak begitu bagus, namun ekspor sepatu jatim justru melonjak. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Di tengah lesunya penjualan sepatu dalam negeri, Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) mencatatkan kinerja ekspor sepatu Jawa Timur (Jatim) ke negara tujuan Amerika justru mengalami peningkatan hingga 5 persen. Ekspor ini ditopang oleh sepatu jenis sport dan kasual.

Ketua DPP Aprisindo Jatim Winyoto Gunawan mengatakan, hal ini disebabkan salah satunya oleh dampak dari perang dagang antara Tiongkok dan Amerika. "Ternyata hal tersebut memberi dampak yang positif bagi industri," terangnya.

Namun demikian, Winyoto juga mencatatakan ekspor sepatu ke negara tujuan Eropa justru mengalami penurunan. "Turun sekitar 5-10 persen," ujarnya.

Menurutnya, penyebabnya selain karena banyak pabrik-parik yang baru buka di sana. Juga karena dampak ekonomi di Eropa sendiri, sehingga daya belinya berkurang. "Eropa ini untuk pembayaran biasanya cepat sekarang minta diundur," lanjut Winyoto.

Adapun jenis sepatu yang diekspor ke Amerika bermacam-macam. Mulai dari jenis sepatu sport dan kasual yang paling banyak diekspor. "Sampai akhir tahun nanti mudah-mudahan tetap bagus," imbuhnya.

Winyoto juga menambahkan, sebenarnya dari asosiasi sudah melakukan penjajakan negara-negara baru untuk meningkatkan ekspornya. Menurutnya, industri sudah mencoba untuk memasuki pasar hampir di seluruh dunia. "Tetapi pasar yang bisa masuk barang-barang kita negara-negara tertentu. Seperti Afrika, di sana ada peluang tetapi pasar ini habis kena makan Tiongkok. Kita tidak bisa masuk, karena kalah bersaing," jelasnya.

Begitu pula dengan pasar Saudi Arabia yang sudah tibak bisa dimasuki karena produk Indonesia dinilai kalah bersaing dari berbagai segmen. "Sudah tidak bisa masuk. Kalah dari segi harga, model, bahan, dan banyak faktor lainnya," paparnya.

Berbeda dengan Amerika dan Eropa yang telah memiliki standarnya sendiri. "Mereka cocok dengan produksi Indonesia," katanya.

Namun demikian, kinerja ekspor yang tumbuh positif ini dinilai Winyoto masih belum bisa membantu pertumbuhan persepatuan secara keseluruhan. Hal ini dikarenakan kapasitas produk dari produksi yang bermacam-macam. "Karena tidak semua perusahaan melakukan ekspor," tuturnya. (cin/nur)

(sb/cin/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia