Selasa, 23 Apr 2019
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya
Dewan Kopi: 2030 Indonesia Jadi Importir Kopi

Produksi Lokal Tak Memadai, Kopi Impor Menyerbu

12 Maret 2019, 16: 05: 03 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi

Ilustrasi kopi (DOK/JPC)

SURABAYA - Dewan Kopi Jawa Timur (Jatim) memprediksi pada 2030 mendatang Indonesia akan menjadi importir kopi. Pasalnya, saat ini per hari ini saja telah ada sekitar 150 kontainer kopi asal Vietnam masuk ke Indonesia.

Ketua Dewan Kopi Jatim KH Muhammad Zakki mengaku sangat miris dengan kondisi ini. Menurutnya, untuk mengatasi kondisi seperti itu ialah bagaimana agar petani tidak hanya menanam secara konvensional, tapi petani yang menanam kopi tidak sekadar tanam, namun menjadi industri petani kopi.

Dalam setahun konsumsi kopi di Jatim diperkirakan sebanyak 1 juta ton lebih. Sedangkan jumlah lahan sekitar 30 ribu juta hektar dengan produksi sekitar 750 kilogram sampai 1 ton per hektar. "Jika dibuat perbandingan, baru 70 persen permintaan kopi di Jatim terpenuhi," ujar Zakki.

Zakki berharap, jumlah produksi yang digelar secara konvensional tersebut bisa meningkat dengan dilakukan pembinaan kepada petani. Sehingga kopi yang bisa dihasilkan dapat mencapai 1,5 hingga 2 ton per hektar. "Kendala kopi kita memang kesadaran petani, bahwa bertani bisa diberdayakan lebih baik. Cara memetik tidak hanya green bean, tetapi red bean harganya lebih bagus," tuturnya.

Di tempat yang sama, Kepala Bank Indonesia Kantor Perwakilan Jatim Difi Ahmad Johansyah mengatakan, tantangan yang dihadapi industri kopi di Jatim salah satunya yaitu kondisi perkebunan kopi berusia tua. Rata-rata lahan kopi di Jatim ditanam sejak zaman Kolonial Belanda.

"Tinggal sekarang bagaimana perkebunan kopi diremajakan dan diperluas, sehingga kebutuhan kopi bisa dipenuhi. jangan sampai kita mengekspor kopi, sebagai produsen kopi dengan kualitas bagus itu tidak baik," kata Difi.

BI Jatim, diungkapkannya, terus menggandeng sejumlah pihak untuk mengembangkan kopi. Kopi sebagai komoditas unggulan di Jatim belum memenuhi permintaan. Perlu ada perbaikan dan penyeragaman kualitas untuk dapat memenuhi pasar.

Saat ini, Difi menyebutkan, masih melihat kebutuhan secara real di lapangan terkait kopi ini. Pendataan dilakukan guna mengetahui mana yang perlu dibantu. Kalau masalahnya di hulu atau petani, pihaknya siap membantu produksi. Seandainya yang dibutuhkan hilir, pengelolaan pasca panen akan dibantu.

"Tahun 2019 kami akan ikut serta dalam membantu untuk menyambungkan UMKM dengan market place online. Tahun ini kita titik berat untuk kopi, dan mengkoneksikan antara UMKM dengan bisnis digital," kata Difi. (cin/nur)

(sb/cin/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia