Senin, 22 Jul 2019
radarsurabaya
icon featured
Lifestyle Surabaya

Alasan Kenapa Perempuan Harus Keluar Dari Zona Nyaman

12 Maret 2019, 09: 00: 59 WIB | editor : Abdul Rozack

BERJUANG UNTUK SESAMA: Dari kiri, Pinky Saptandari, Fatmawati Saifullah Yusuf, Arzetti Bilbina dan Etty Soraya memberikan cap tangan dalam seminar Int

BERJUANG UNTUK SESAMA: Dari kiri, Pinky Saptandari, Fatmawati Saifullah Yusuf, Arzetti Bilbina dan Etty Soraya memberikan cap tangan dalam seminar International Women's Right Day. (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Sudah bukan zamannya perempuan milenial duduk berpangku tangan. Di tengah persaingan industri 4.0, sudah saatnya perempuan keluar dari zona nyaman. Artinya, mau menunjukan kemampuan lebih yang diimbangi oleh keberanian untuk mengambil risiko. Dan mau berbuat demi kobaikan orang lain.

Seperti diaampaikan oleh Kepala Jurusan Ilmu Sosial dan Politik Universitas Airlangga Surabaya Pinky Saptandari. "Kita tidak boleh puas dengan apa yang kita miliki, selama itu untuk kepentingan yang lebih besar seperti keluarga dan masyarakat," jelasnya dalam talkshow Dare To Dream Big di salah satu hotel di kawasan Darmo, Senin (11/3). 

Ia menjelaskan, perempuan yang sudah jadi pioner di antaranya Etty Soraya, yang keluar dari zona nyaman dari seorang marketing communication menjadi wirausahawan perempuan yang sukses mengangkat produk lokal. Arzeti Bilbina yang keluar dari dunia keartisan dan bergerak untuk bisa berbuat lebih banyak ke sesama dengan terjun di dunia politik. Juga Fatma Syaifullah Yusuf yang menolak bersantai setelah purna tugas dan malah mendirikan Fatma Foundation. 

Arzeti Bilbina yang turut hadir dalam peringatan Hari Hak Asasi Perempuan Sedunia ini menyampaikan, perempuan harus bisa membantu permasalahan perempuan lain. Hal itulah yang menginspirasinya untuk keluar dari zona nyaman keartisan dan terjun ke dunia politik yang selalu menyuarakan pendidikan tinggi untuk anak bangsa. 

Menjadi perempuan, ia benarkan memiliki banyak batasan. Misalnya saat ia memutuskan untuk berhijab beberapa tahun silam. Dunia entertain yang membesarkan namanya berubah memusuhinya. Ia kehilangan banyak pekerjaan karena keinginannya untuk menutup diri. "Akhirnya saya berpikir, dunia entertainment bukan panggung saya lagi. Akhirnya saya akan memilih jalur dimana saya lebih bermanfaat lagi," ungkapnya. 

Fatma Syaifullah Yusuf menambahkan, dirinya berharap ke depan akan semakin sedikit perempuan yang terjangkit penyakit kanker serviks dan payudara. Untuk itu, ia juga mengajak semakin banyak perempuan untuk bergerak dan sadar kesehatan. (is/nur)

(sb/is/jek/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia