Kamis, 23 Jan 2020
radarsurabaya
icon featured
Kota Lama
Jalan Kebon Rojo dan Taman Pusat Kota (6)

Tugu Big Ben Percantik Standstuin te Soerabaja

10 Maret 2019, 00: 29: 09 WIB | editor : Wijayanto

TELAH DIPINDAH: Monumen jam yang ada di area Standstuin te Soerabaja merupakan miniatur ikon Inggris yang terkenal, Big Ben.

TELAH DIPINDAH: Monumen jam yang ada di area Standstuin te Soerabaja merupakan miniatur ikon Inggris yang terkenal, Big Ben. (ISTIMEWA)

Share this      

Selain berbagai bangunan peninggalan, sebenarnya ada monumen yang dibangun di area Stadstuin te Soerabaja pada masa itu. Tercatat pada 1930, setelah taman ini dibangun terdapat monumen jam. Jam ini memiliki tinggi yang menjulang dan desainnya menyerupai menara Big Ben di London. Jam besar ini berdiri menjulang di salah satu sisi taman kota yang megah ini.

Guntur Irianto-Wartawan Radar Surabaya

Monumen yang diperkirakan setinggi enam hingga tujuh meter tersebut berdiri megah. Tingginya jam tersebut bahkan tidak sampai membuatnya tenggelam di antara rerimbunan pohon yang mengepung taman kota tersebut. Jam tersebut dibangun oleh komunitas masyarakat Inggris di Surabaya saat itu. "Mereka sengaja membangun monumen yang menyerupai Big Ben London," kata Sejarahwan Universitas Airlangga Purnawan Basundoro kepada Radar Surabaya.

Masyarakat Inggris saat itu ingin memberikan kenang-kenangan untuk kota Surabaya. Mereka pun sepakat memberikan monumen ikonik tersebut dan membangunnya di tengah kota Surabaya. Pembangunan jam besar tersebut dilakukan bertepatan dengan ulang tahun Ratu Belanda saat itu. "Mereka membangun tepat saat momen ulang tahun Ratu Belanda," ujarnya.

Ia menuturkan, saat itu banyak masyarakat Inggris di Surabaya hingga ada komunitasnya sendiri. Jumlahnya memang tak sebanyak masyarakat Belanda namun bisa dibilang mereka adalah kalang berada. Sehingga banyak pembangunan, baik monumen maupun gedung yang mereka lakukan. "Kebanyakan masyarakat Inggris di Surabaya masa itu, tepatnya sebelum kemerdekaan adalah pengusaha," tuturnya.

Banyaknya masyarakat Inggris yang merupakan pengusaha, jadi bisa dikatakan secara finansial mereka kuat. Tidak hanya menara jam ini saja, namun gedung Siola yang dulunya menjadi pusat perbelanjaan modern pertama saat itu juga dibangun oleh pengusaha Inggris. "Jam tersebut dibangun memang untuk kenang-kenangan tidak ada maksud lain. Bisa dibilang semacam menandai eksistensi mereka saat itu," ceritanya. (bersambung/nur)

(sb/gun/jay/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia