Minggu, 23 Feb 2020
radarsurabaya
icon featured
Lifestyle

AWAS! Wanita Lebih Sering Depresi Picu Stroke

09 Maret 2019, 22: 00: 59 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi

Ilustrasi (NET)

Share this      

Depresi paska stroke merupakan gangguan yang paling sering terjadi. Bahkan, menurut studi sebelumnya, 50 persen pasien stroke akan mengalami kondisi depresi di tahun pertamanya. Entah ringan, sedang maupun berat.

Ismaul Choiriyah-Wartawan Radar Surabaya

Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Rumah Sakit (RS) Adi Husada Undaan Wetan Surabaya dr. Fenny Anggrajani, Sp.KJ menjelaskan, depresi ringan dapat disembuhkan dengan bantuan keluarga. Sementara jika depresi berat, dapat dibantu dengan pemberian obat-obatan. “Dalam kurun waktu beberapa minggu sampai satu tahun lebih,” ungkap dr. Fenny.

Lebih lanjut ia mengungkapkan, wanita dikatakan lebih sering mengalami depresi pascastrok daripada laki-laki. Karena wanita lebih sering menggunakan emosionalnya. Wanita yang berpendidikan tinggi dan hidup sendiri, memiliki faktor risiko lebih besar untuk jatuh dalam kondisi depresi.

Sayangnya, pasien yang mengalami depresi pascastrok sering tidak terdeteksi. Penyebabnya karena pasien tersebut sering mengalami gangguan komunikasi. Sehingga tidak mudah menyampaikan apa yang dirasakan. “Dan ironisnya, hal itu memperparah kondisi depresi itu sendiri,” sambungnya.

Dokter Fenny menjelaskan, secara medis,  mengapa depresi selalu dikaitkan dengan strok, karena hal ini erat kaitannya dengan fungsi otak. Pada orang strok, terjadi kerusakan otak. Sementara salah satu fungsi otak adalah pusat pengatur emosi. Entah cemas, sedih, atau pun takut. "Kalau kenanya di bagian itu, maka bisa timbul depresi," paparnya.

Apalagi jika dihubungkan dari sisi psikologis, strok selalu dikaitkan dengan sesuatu pengalaman  yang menakutkan. Rasa takut, cemas, putus asa, dan marah bisa menyebabkan depresi.

Apalagi seperti yang disebutkan di atas, gangguan fisik seperti nyeri yang menahun, kelumpuhan separuh badan dan kesulitan-kesulitan fisik yang lain membuat pasien mengalami kejengkelan yang berujung depresi.

Depresi, kata dr. Fenny, jika dilihat lebih detil, merupakan suatu kumpulan gejala yang bersumber pada tiga gejala besar. Di antaranya sulit merasa bahagia. Mudah lelah meski tak menjalani aktifitas berat, dan hilang minat dan kegembiraan.

Gejala depresi yang lain di antaranya nafsu makan turun, murung dan sedih, rasa bersalah, rendah diri, konsentrasi menurun, kesulitan tidur hingga ujungnya keinginan untuk bunuh diri.

Depresi memiliki dampak pada penyembuhan pasien strok. Di antaranya pasien lebih peka terhadap nyeri, merasa mudah lelah dan pemulihan terhambat. (*/opi)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia