Senin, 20 May 2019
radarsurabaya
icon featured
Features Sidoarjo
Menengok Batik Tulis Kedungcangkring, Jabon

Sempat Mati Suri, Kini Mulai Menggeliat

09 Maret 2019, 13: 04: 41 WIB | editor : Wijayanto

LEGENDARIS: Lutfillah Aer Djaka bersama rekannya memamerkan batik khas Kedungcangkring, Jabon.

LEGENDARIS: Lutfillah Aer Djaka bersama rekannya memamerkan batik khas Kedungcangkring, Jabon. (ISTIMEWA)

Salah satu sentra batik tulis di Kota Delta terletak di Desa Kedungcangkring, Kecamatan Jabon. Kampung di sisi selatan Sungai Porong ini bahkan telah berkibar sebagai pusat produksi batik sebelum penjajahan Belanda. Motif batiknya pun khas.

Lukman Alfarisi-Wartawan Radar Sidoarjo

PENELITI batik dari Universitas Kristen Petra Surabaya Dr Lintu Tulistyantoro menyebutkan bahwa batik khas Kedungcangkring memiliki corak Tionghoa. Lebih tepatnya Mongolia. Diduga, ratusan tahun lalu pedagang asal Tiongkok membuka pusat kerajinan batik di sekitar Sungai Porong. Para pedagang Tiongkok itu kemudian bermukim dan berintegrasi dengan penduduk setempat.

"Jejak-jejak Tionghoa bisa dilihat dari batik Kedungcangkring sampai sekarang," kata Lintu Tulistyantoro. Sayang, dalam perjalanan waktu, sentra produksi batik di Kedungcangring perlahan-lahan surut.

Ada sejumlah penyebab surutnya batik tulis Kedungcangkring. Salah satunya karena keturunan para perajin batik klasik itu tidak meneruskan usaha leluhurnya. Harga batik tulis di pasaran pun anjlok pada tahun 1960-an hingga 1970-an.

Informasi lain menyebutkan, surutnya kampung batik di Kedungcangkring juga akibat ulah salah satu oknum pedagang Tionghoa di Surabaya yang bernama Tai Shin. Orang ini pedagang batik, tapi beda dengan pedagang-pedagang di Sidoarjo.

“Tai Shin ini memborong batik-batik yang berasal dari Kedungcangkring, lalu gambarnya dikopi, kemudian dicetak dengan alat-alat yang modern agar hasilnya melimpah,” kata M. Odin, salah satu penulis sejarah Desa Kedungcangkring.

Lutfillah Aer Djaka, pengusaha batik di Kedungcangkring, mengatakan, sejak tahun 1977 usaha batik tulis di desa Kedungcangkring bak ditelan bumi. Tidak ada lagi produksi batik. “Yang ada cuma koperasi batik. Anggotanya keturunan para pembatik terkenal di Kedungcangkring zaman dulu,” katanya.

Koperasi batik itu pun ibarat papan nama karena kerajinan batik sudah lama gulung tikar. Suasana tidak kondusif ini berlangsung terus hingga 30 tahun lebih. Sampai-sampai anak muda setempat pun seakan lupa bahwa di masa lalu Kedungcangkring punya reputasi sebagai salah satu pusat produksi batik tulis berkualitas tinggi.

Prihatin dengan kondisi ini, Lintu Tulistyantoro bersama aktivis batik Jawa Timur mengunjungi kediaman keturunan pembatik tradisional di Desa Kedungcangkring. Mereka memberi semangat dan motivasi untuk menghidupkan kembali sentra batik yang mati suri.

Apalagi Indonesia sedang dilanda demam batik setelah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengakui batik sebagai warisan dunia pada 2 Oktober 2009. “Alhamdulillah, sejak saat itulah perlahan-lahan usaha batik mulai menggeliat di Kedungcangkring,” kata Lutfillah.

Di sisi lain, dia mengimbau masyarakat agar berhati-hati karena belakangan sejumlah oknum mendistribusikan batik yang bukan asli produksi Kedungcangkring. Menurut dia, warna kain batik Kedungcangkring itu tidak luntur meskipun dicuci dengan detergen karena proses pembuatannya sangat detail. “Motifnya juga tidak norak,” katanya. (far/rek)

(sb/jpg/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia