Jumat, 24 Jan 2020
radarsurabaya
icon featured
Surabaya

Kampung Lawas Maspati Jadi Lokasi Syuting Film

08 Maret 2019, 09: 00: 59 WIB | editor : Abdul Rozack

Kerja Tim: Kru film terlihat sedang menata posisi lampu sebagai pendukung pencahayaan di salah satu sudut di Kampung Lawas Maspati, Kamis (7/3)

Kerja Tim: Kru film terlihat sedang menata posisi lampu sebagai pendukung pencahayaan di salah satu sudut di Kampung Lawas Maspati, Kamis (7/3) (Rizky Putri Pratimi / Radar Surabaya)

Share this      

Surabaya - Kampung Lawas Maspati di Jalan Bubutan selama dua hari Rabu (6/3) dan Kamis (7/3) dijadikan lokasi syuting film besutan sutradara Ron Widodo, Bumi Itu Bulat.

Sebagai kampung lawas zaman kolonial yang masih terjaga di kota metropolitan, Kampung  Lawas Maspati dianggap sebagai lokasi yang pas dijadikan setting tempat pengambilan gambar film Bumi Itu Bulat. "Tempatnya asyik, bisa menjaga orisinalitas bangunan tuanya. Enak dilihat juga," ujar sang sutradara Ron Widodo di sela-sela break syuting, Kamis (7/3).

Film Bumi Itu Bulat merupakan film tentang persahabatan, toleransi dan keluarga. Diceritakan Rahadi yang diperankan Ryan Wijaya tidak begitu bangga jika ayahnya, yang diperankan oleh Mathias Muchus menjadi anggota Banser. Namun, bisa membuktikan bahwa Banser adalah identitas menjaga toleransi.

Dipilihnya Kampung Lawas Maspati sebagai lokasi syuting bukanlah yang pertama kali. "Sudah sering, syuting film, sinetron bahkan iklan. Pernah disini," ungkap Ketua RW Kampung Lawas Maspati, Sabar Suastono.

Ketika ada tamu yang datang keguyuban warga terlihat. Seperti para ibu-ibu yang sibuk menyiapkan konsumsi untuk para kru dan pemain. Masak memasak dipusatkan di salah satu rumah warga yang tidak terlalu jauh dari rumah yang dijadikan setting tempat. 

Keunggulan dari Kampung Lawas Maspati yang sering dijadikan kunjungan dari wisatawan domestik dan mancanegara, secara tidak langsung turut mendongkrak roda ekonomi warganya. Pendapatan dari konsumsi, penginapan, ataupun cinderamata yang terjual. Seutuhnya akan kembali ke warga tanpa ada pengendapan terlebih dahulu. "Kalau ada kegiatan, kita kerahkan warga. Semua uang dari hasil konsumsi atau penginapan. Kita kembalikan lagi ke warga. Sedikit yang masuk kas RT," pungkas Sabar. (rpp/nur)

(sb/jpg/jek/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia