Jumat, 24 Jan 2020
radarsurabaya
icon featured
Features Sidoarjo
Menengok Imigran Myanmar di Rusunawa Puspa Agro

Ada yang Kabur ke Malaysia karena Stres

06 Maret 2019, 14: 16: 34 WIB | editor : Wijayanto

PASRAH: Muhammad Sultan, tokoh imigran asal Myanmar, bersantai di salah satu warkop di Rusunawa Puspa Agro, Jemundo, Taman.

PASRAH: Muhammad Sultan, tokoh imigran asal Myanmar, bersantai di salah satu warkop di Rusunawa Puspa Agro, Jemundo, Taman. (LAMBERTUS LUSI HUREK/RADAR SIDOARJO)

Share this      

Saat ini ada sekitar 340 imigran pencari suaka yang tinggal di Rusunawa Puspa Agro, Desa Jemundo, Kecamatan Taman, Sidoarjo. Sepuluh imigran berasal dari Myanmar alias Burma.

Lukman Alfarisi-Wartawan Radar Sidoarjo

MESKI menempati flat yang cukup bagus milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur, ratusan imigran asing ini mengaku tertekan. Tidak ada kepastian diberangkatkan ke negara ketiga yang bersedia menampung mereka.

"Saya sudah lima tahun lebih tinggal di sini. Teman saya ada yang empat tahun, ada yang lima tahun," kata Muhammad Sultan kemarin (5/3).

Selain Myanmar, ratusan pengungsi ini berasal dari sejumlah negara seperti Afghanistan, Pakistan, Somalia, Sudan, Ethiopia, dan Srilanka. Setiap bulan mereka diberi jatah hidup senilai Rp 1.250.000 sebulan oleh organisasi internasional urusan imigrasi (IOM).

Uang sebanyak ini, menurut Sultan, hanya cukup untuk hidup selama dua minggu. "Makanya, kami harus sangat hemat. Sering puasa," katanya.

Pria yang fasih berbahasa Indonesia ini pernah ditahan di Malaysia, Aceh, Manado, dan terakhir di Puspa Agro Jemundo. Gara-gara masalah keimigrasian. Imigran yang lain pun rata-rata sudah ditahan di kota lain sebelum dikirim ke Puspa Agro Jemundo.

Menurut Sultan, tidak semua pengungsi mampu mengadapi ujian hidup yang penuh ketidakpastian ini. Beberapa imigran stres berat dan jadi peminum. Zow Min, imigran asal Myanmar, bahkan dikeluarkan dari Puspa Agro karena sering membuat kekacauan di tempat pengungsian di Jemundo.

"Zow Min itu sudah rusak berat. Kalau dua tiga kali mabuk ya masih bisa diatasi. Ini sudah berkali-kali. Ulahnya juga sangat keterlaluan," katanya.

Selain Zow Min, pria etnis Rohingya ini menyebutkan, ada seorang imigran asal Myanmar yang melarikan diri dari Puspa Agro. Pergi ke Malaysia untuk mencari suasana yang dia anggap lebih baik. "Saya tidak tahu bagaimana nasibnya di Malaysia. Kita tidak pernah komunikasi," katanya.

Sebagai muslim yang taat, Sultan terlihat lebih sabar dan dewasa menyikapi nasib yang tengah dialaminya di lokasi pengungsian. Dia menilai jalan hidup seperti ini merupakan ketentuan Tuhan. "Waktu kapal tenggelam di Aceh, kami hampir mati. Alhamdulillah, akhirnya selamat berenang sampai ke daratan," kenangnya. (far/rek)

(sb/jpg/jay/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia