Selasa, 22 Oct 2019
radarsurabaya
icon featured
Lifestyle Surabaya

Mahasiswa Jepang Belajar Membatik motif Sakura dan Keluwih

28 Februari 2019, 06: 25: 59 WIB | editor : Abdul Rozack

BUDAYA LOKAL: Anna, salah satu dari 20 mahasiswa Universitas Tokai, Jepang, belajar membatik di Universitas Surabaya (Ubaya), Rabu (27/2).

BUDAYA LOKAL: Anna, salah satu dari 20 mahasiswa Universitas Tokai, Jepang, belajar membatik di Universitas Surabaya (Ubaya), Rabu (27/2). (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA – Anna, mahasiswi dari Universitas Tokai, Jepang ini tampak tekun mencanting di atas selembar kain. Dirinya sedang belajar membatik dengan motif bunga Sakura. Anna tidak sendiri, ada dua puluh mahasiswa Universitas Tokai Jepang belajar membatik motif bunga sakura dan keluwih. Mereka tergabung dalam program The Student Workshops on Global Business in 2019 yang diselenggarakan oleh Fakultas Bisnis dan Ekonomi Universitas Surabaya (Ubaya). Kegiatan batik painting ini dilaksanakan di Gazebo Fakultas Ilmu Kedokteran (FIK) Ubaya, Rabu (27/2).

Pemilihan motif bunga sakura dan keluwih ini mencerminkan cultural exchange antara Indonesia dan Jepang. Bunga sakura merupakan simbol penting bagi masyarakat Jepang yang dinobatkan sebagai bunga nasional. Sedangkan keluwih adalah salah satu tanaman asli di Indonesia yang juga digunakan sebagai salah satu logo Ubaya. Daun keluwih melambangkan cita-cita berilmu tinggi.

Mahasiswa Jepang diajak untuk belajar membatik dari awal proses mencanting hingga teknik pewarnaan. Awalnya, mahasiswa Universitas Tokai Jepang akan menerima penjelasan mengenai bahan serta alat yang nantinya akan digunakan selama proses membatik. Selanjutnya proses mencanting pada kain dengan mengikuti pola bunga sakura dan keluwih. Proses terakhir adalah proses pewarnaan. 

Kegiatan batik painting ini merupakan satu dari serangkaian program The International Student Workshops on Global Business in 2019. “Kolaborasi dengan budaya dan negara berbeda itu tidak mudah. Saya berharap dengan adanya kegiatan ini menjadi wadah untuk menumbuhkan rasa kecintaan terhadap masing-masing perbedaan, antara budaya, norma, dan gaya,” ungkap Ketua Penyelenggara Aluisius Hery Pratono.

Hiroshi Nakagawa, salah satu pengajar Universitas Tokai yang ikut berpartisipasi menuturkan bahwa program ini bagus untuk meningkatkan keberanian dan rasa percaya diri mahasiswa Jepang dalam mengenal budaya dan lingkungan baru. “Selain belajar budaya, mahasiswa Jepang bisa belajar untuk lebih berani dan tidak menjadi malu jika bertemu dengan orang baru,” imbuhnya.

Lebih lanjut Hiroshi menambahkan, program ini sangat bagus dengan nuansa budaya yang berbeda. Terdapat berbagai tahapan dalam proses pengerjaan membatik.

“Ini kali pertama saya membatik di Indonesia, dan saya sangat senang sekali dapat membatik di sini. Saya kira membatik itu bisa dikerjakan dalam waktu singkat, ternyata terdapat beberapa tahapan yang harus dilakukan dalam proses membatik,” pungkasnya. (aji/nur)

(sb/jpg/jek/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia