Selasa, 20 Aug 2019
radarsurabaya
icon featured
Surabaya

Kurang Pengetahuan Gizi, Kematian Ibu dan Bayi Tinggi

23 Februari 2019, 08: 20: 59 WIB | editor : Abdul Rozack

Kematian Ibu dan Bayi Tinggi

Kematian Ibu dan Bayi Tinggi (Grafis: Alam)

Share this      

SURABAYA - Angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) di Jawa Timur (Jatim) masih tergolong tinggi. Berdasarkan data, tahun 2018 AKI mencapai 91,45 persen per 1.000 kelahiran, sementara untuk AKB sebesar 13,4 persen per 1.000 kelahiran. 

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jatim Dr Kohar Hari Santoso menyebutkan, meski masih tinggi, jumlah ini sudah menurun dari tahun 2017 dimana AKB sebesar 23,10 persen dan AKI sebesar 91,92 persen. Meski begitu, pihaknya terus berupaya untuk semakin menurunkan angka ini. Apalagi, penurunan angka AKI dan AKB juga masuk dalam program kerja Gubernur Baru, Khofifah Indar Parawansa tahun ini. 

Ia menjelaskan, setelah dibuat program oleh gubernur, tim ahli yang mengurusi program ini juga sudah melakukan rapat kerja untuk membahas langkah lanjutan untuk menurunkan angka AKI dan AKB Jatim. 

Kohar menjelaskan, AKI dan AKB yang masih tinggi tak lepas dari rendahnya kesadaran gizi seimbang di masyarakat. Ia mengaku, saat ini masyarakat banyak belum sadar, selain karbohidrat, tubuh juga perlu asupan lain. Sehingga bayi dan ibunya tidak mengalami kekurangan gizi. Hal itulah yang perlu dibiasakan. "Asupan seperti protein, lemak, vitamin dan mineral harus dipenuhi," ujarnya seusai menyantuni Sunarti, ibu asal Ponorogo yang sempat viral setelah foto-fotonya ditandu menuju rumah sakit bersalin, dengan kondisi anak meninggal di dalam kandungan, Jumat (22/2).

Penyebab tingginya AKI dipengaruhi banyak hal. Di antaranya perdarahan, pre eklamsi, jantung dan infeksi. "AKI akibat penyakit jantung kini nampaknya mulai jadi tren," imbuhnya.

Sementara penyebab kematian bayi di antaranya berat bayi lahir rendah (BBLR), asfiksia (gangguan pengangkuyan oksigen ke jaringan), kelainan bawaan juga tetanus. 

Kohar menambahkan, saat ini, pihaknya juga telah melakukan berbagai upaya, salah satunya dengan melakukan pendampingan ibu hamil. Menambah fasilitas kesehatan dan menambah kegiatan untuk tim Satuan Tugas Penurunan Kematuan Ibu dan Bayi (Satgas Penakib). 

Untuk langkah konkrit ke desa dan pelosok, pihaknya berupaya untuk menyiapkan fasilitas penunjang seperti ambulans.

Lebih lanjut, Kohar menambahkan, solusi jangka pendek yang akan dilakukan adalah menyiapkan Rumah Tinggal Kelahiran (RTK) di lokasi strategis. Di RTK ibu yang akan melahirkan dirawat secara optimal tanpa biaya sepeserpun atau gratis. Harapannya, apa yang terjadi pada Sunarti tidak terjadi lagi pada ibu lain. (is/nur)

(sb/is/jek/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia