Rabu, 24 Jul 2019
radarsurabaya
icon featured
Iso Ae

Awale Seolah-olah Tresno, Suwe-suwe Emoh Tenan

22 Februari 2019, 08: 44: 19 WIB | editor : Wijayanto

Iluastrasi Iso Ae

Ilustrasi Iso Ae (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

Share this      

Sudahlah para orang tua. Jangan memaksakan diri untuk  menjodoh-jodohkankan anak. Di era Industri 4.0, cara itu sudah so yesterday. Sudah ketinggalan zaman. Bukan apa-apa,  pola pikir anak sekarang sudah beda jauh dengan anak zaman dulu. Dulu, kalau tidak sreg dipendam, terus tiba-tiba cinta. Kalau sekarang, ya berontak.

Ismaul Choiriyah-Wartawan Radar Surabaya

Seperti yang dialami oleh Donwori, 30. Pria malang korban egoisme dua sahabat, yang kebetulan adalah bapaknya sendiri dengan teman akrabnya. Demi ingin mempererat hubungan persahabatan, Donwori dipaksa menikah dengan Karin, 28, anak teman bapak Donwori (cek mbulete bingung sing moco).

Layaknya pasangan yang dijodohkan, di awal Donwori tentu saja menolak perjodohan itu. Apalagi, ia sebelumnya sudah mempunyai kekasih. Namun dasar laki-laki, ia pun akhirnya mengiyakan perjodohan itu begitu tahu Karin berparas cantik bertubuh aduhai. 

Ia pun tega meninggalkan pacar lamanya demi menikah dengan Karin. Di awal 2016, Donwori dan Karin menikah. Eh tiga tahun kemudian, nasibnya sudah berada di pengadilan. Rupanya, indahnya kisah perjodohan yang banyak orang tua gembar-gemborkan seperti, "westalah, awale tok emoh-emoh, suwe-suwe lak tresno" tidak berlaku pada pasangan ini. 

"Karin ya melayani, tapi ya mek nglayani. Gak ono perasaane," kata Donwori panjang lebar, di ruang tunggu Pengadilan Agama (PA) Klas1A Surabaya, Selasa (19/2) siang.

 Dan memang inilah alasan Donwori dan Karin cerai. Terdengar remeh, nyatanya tidak. Selama tiga tahun menikah, rupanya Karin tidak memiliki perasaan pada Donwori. Bahkan di depan hakim pun, Karin mengaku, melakukan semua tugasnya sebagai istri hanya demi menjaga hubungan persahabatan bapaknya dengan ayah Donwori.

Ketika ditanyai apakah tidak diberikan nafkah batin pun, Donwori menolak. Ia bilang Karin ini normal, layaknya istri yang melakukan tugas-tugasnya. Masalahnya hanya satu, semuanya dilakukan tanpa cinta. "Halaah, lek masalah kepuasan ae iso nyari di luar. Tapi ketenteraman hati, rasa cinta iku loh sing angelgolekane," keluhnya lagi, yang sudah mirip khotbah.

Karena sama-sama hambar, dicocok-cocokkan pun tetap tak cocok. Akhirnya baik Karin maupun Donwori sepakat bercerai secara baik-baik. Kurang baik apa sampai mengurus prosesnya yang kerap dilakukan pihak perempuan, ini Donwori yang mengurus. Donwori sudah ikhlas. Andaikan Karin mau menikah lagi, ia juga sudah legowo. Sabar ya, Mas Wori. (*/opi)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia