Selasa, 20 Aug 2019
radarsurabaya
icon featured
Lifestyle Surabaya

Deteksi TBC dari Dahak Pasien

22 Februari 2019, 08: 20: 59 WIB | editor : Abdul Rozack

TES TBC: Tiga orang mahasiswa kedokteran Universitas Surabaya (Ubaya), Ketut Ayu (kiri), Lady Theresa (tengah) dan Elva Da Costa, meneliti dahak seseo

TES TBC: Tiga orang mahasiswa kedokteran Universitas Surabaya (Ubaya), Ketut Ayu (kiri), Lady Theresa (tengah) dan Elva Da Costa, meneliti dahak seseorang untuk mendeteksi penyakit TBC, di laboratorium Mikrobiologi Ubaya, Kamis (21/2). (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA – Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Surabaya (Ubaya) mengadakan praktek pemeriksaan dahak (sputum) untuk mendeteksi adanya bakteri Tuberculosis (TBC) pada manusia. 

Penyakit TBC tergolong dalam penyakit menular yang banyak menyebabkan kematian dan masalah kesehatan bagi masyarakat di Indonesia. “Menurut data World Health Organization (WHO), Indonesia menduduki peringkat kedua dunia jumlah penderita TBC saat ini,” ungkap Wakil Dekan ll Fakultas Kedokteran Ubaya Sawitri Boengas di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Ubaya Tenggilis, Kamis (21/2).

Mahasiswa Fakultas Kedokteran memiliki cara mengidentifikasi penyakit TBC dengan praktek pemeriksaan Basil Tahan Asam (BTA) pada sputum. Pemeriksaan ini merupakan keterampilan dasar yang harus dimiliki oleh setiap dokter dengan mengacu pada Standar Kompetensi Dokter Indonesia dan melakukan prosedur laboratorium yang penting, seperti keterampilan klinis pada blok respirasi.

Pada praktikum ini mahasiswa melakukan pemeriksaan pada dua sampel dahak, yaitu dahak pasien biasa yang disiapkan dari mahasiswa sendiri dan dahak pasien TBC yang sudah disiapkan oleh laboran.

Awalnya mahasiswa akan diberikan edukasi untuk menjelaskan kepada pasien mengenai tindakan pengumpulan sputum. Kemudian sputum akan dioleskan pada objek kaca untuk dilakukan tahap pewarnaan menggunakan Methylen Blue dan Carbol Fuchsin. Langkah berikutnya, mahasiswa akan mengidentifikasi spesimen sputum yang berkualitas. Melalui tahap ini mahasiswa akan berlatih membuat dan membaca hasil sediaan apus dari sputum.

Tingkat kesulitan yang dihadapi mahasiswa adalah pada tahap mengidentifikasi bakteri. “Kesulitan yang biasanya dihadapi mahasiswa yaitu belum terbiasa melakukan prosedur laboratorium dan belum terbiasa mengidentifikasi bakteri yang ukurannya sangat kecil di bawah mikroskop, sehingga memerlukan pembiasaan melalui praktikum seperti ini,” ujar Wakil Dekan l Fakultas Kedokteran Ubaya, Risma Ikawaty.

Dalam Laboratorium ini, mahasiswa dapat melakukan praktek identifikasi mikrobiologi dan parasitologi.(aji/nur)

(sb/jpg/jek/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia