Rabu, 18 Sep 2019
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi

Wagub Jatim Fokus Pembangunan Wilayah Selatan dan KA

22 Februari 2019, 07: 25: 59 WIB | editor : Abdul Rozack

Wakil Gubernur Jawa Timur (Wagub Jatim) Emil Elestianto Dardak

Wakil Gubernur Jawa Timur (Wagub Jatim) Emil Elestianto Dardak (dok)

Share this      

SURABAYA - Wakil Gubernur Jawa Timur (Wagub Jatim) Emil Elestianto Dardak fokus membangun wilayah selatan Jatim. Terlebih pekerjaan itu merupakah amanah yang diberikan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa kepadanya.

Sebagai mantan Bupati Trenggalek, Emil memiliki pengalaman di wilayah Selatan Jatim. Tiga tahun menjabat cukup memberi bekal untuk membangun ekonomi di kabupaten/kota di selatan dan barat Provinsi Jatim.

“Tentunya dengan skala Jatim yang sangat besar dan ekonomi beragam, mudah-mudahan saya bisa berikan nilai tambah karena saya dulu kepala daerah di wilayah itu. Jadi ada kontinuitas jika saya diarah sana,” jelasnya, Kamis (21/2). 

Emil mengatakan, ada beberapa agenda akan dikerjakannya. Di antaranya pembangunan Lingkar Wilis. Jalur ini direncanakan dapat menyambungkan enam kabupaten yakni Tulungagung, Trenggalek, Nganjuk, Ponorogo, Madiun, dan Kediri. “Targetnya pembangunan jalur yang ini selesai 2022. Dengan tersambungnya lingkar wilis bisa mendongkrak potensi ekonomi di wilayah Mataraman,” katanya. 

Emil menuturkan, ada dana dari Islamic Development Bank (IDB) yang siap digunakan sebesar Rp 700 milliar untuk pembanguan Jalur Lingkar Selatan (JLS) yang menghubungkan Pacitan sampai Banyuwangi. Meskipun anggaran tersebut belum cukup untuk merampungkan seluruhnya, tetapi bisa menambah progres pembangunan proyek yang digagas sejak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu.

Suami Arumi Bachsin ini menambahkan, kalau mengaku telah melakukan komunikasi dengan Bupati Kediri Haryanti Sutrisno terkait  Bandara Kediri. “Dikebut dalam 1,5 bulan ke depan untuk persiapan pembangunannya. Saat ini masih membahas penentuan lokasi dan pembebasan lahan. Tinggal yang harus didukung pemprov adalah rencana tata ruang wilayah (RTRW),” jelasnya.

Emil mengaku sangat optimistis Bandara Kediri bisa memberi dampak ekonomi kepada 13 kabupaten/kota di selatan Jatim. Perdagangan, pariwisata dan investasi dapat terdongkrak setelah selesai proyek bandara di lahan milik PT Gudang Garam itu. 

Lebih lanjut Emil mengakui, untuk memenuhi keinginan tersebut membutuhkan waktu yang cukup lama. Yakni harus melalui perhitungan, perencanaan dan penelitian cukup rumit. 

“Tidak hanya itu, tapi juga melibatkan stakeholder atau pihak-pihak yang berkepentingan. Seperti akademisi, pemerintah, civil society, bahkan para pakar dari luar negeri di bidang intra urban maupunintra regional railway,” tuturnya. 

Meski demikian, Emil mengatakan, moda transportasi perkeretaapian sangat diharapkan dan mampu menjadi backbone transportasi darat. Apalagi, menurutnya, transportasi KA memiliki beberapa keunggulan, yaitu kapasitas dan daya angkut yang besar, baik untuk angkutan barang maupun penumpang, “Salah satunya juga tidak berdampak pada persoalan kemacetan, tingkat keamanan tinggi, memiliki kecepatan tinggi dan tarif relatif murah,” ujarnya. 

Emil menambahkan, meski dinilai sangat rumit namun Kementerian Perhubungan sudah melakukan beberapa langkah konkrit untuk meningkatkan daya tampung kereta api di Jatim. Misalnya membangun dual track untuk jurusan Madiun – Jombang, serta penyediaan lahan untuk relokasi kereta api menuju Porong. 

Namun yang menjadi pertanyaan, Kota Surabaya sebagai kota megapolitan mau dibawa kemana dalam hal konsep transporasinya. Emil mengaku persoalan transporasi sangat berpengaruh terhadap persoalan perekonomian masyarakat. “Kita lihat Surabaya situasinya crowded  luar biasa, apabila sudah maksimal ditakutkan nantinya akan berpengaruh pada pertumbuhan ekonominya. Kalau sudah demikian siapa lagi yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi Jatim,” ungkapnya. 

Oleh karena itu, dirinya akan melihat kembali model transporasi di wilayah Gerbangkertosusila (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, dan Lamongan) melalui rencana tata ruang dan wilayah (RTRW) yang sudah ditanda tangani oleh seluruh bupati/wali kota wilayah ini tahun 2107 lalu untuk segera disahkan.  “Apabila sudah disahkan, maka kita tinggal merencanakan jalur baru kereta api baik untuk kereta api barang maupun penumpang. Sedangkan untuk konektifitas dan mobilitas jalur tersebut harus melalui perencanaan dan perhitungan yang tepat,” katanya.

Menurut Emil, pengembangan moda KA tidak boleh mengesampingkan moda masal yang sudah ada. Termasuk yang harus diperhitungkan adalah aspek pendekatan transportasi secara inter-moda. “Pada intinya harus ada keterpaduan perencanaan,” pungkasnya. (mus/nur)

(sb/jpg/jek/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia