Kamis, 23 Jan 2020
radarsurabaya
icon featured
Gresik

Tambah Biaya Berobat, Pekerja Desak BPJS Bubar

20 Februari 2019, 17: 57: 20 WIB | editor : Wijayanto

DISKUSI: Direksi RSUD Ibnu Sina berdialog dengan Kacab BPJS Kesehatan Gresik serta perwakilan asosiasi pekerja se-Gresik.

DISKUSI: Direksi RSUD Ibnu Sina berdialog dengan Kacab BPJS Kesehatan Gresik serta perwakilan asosiasi pekerja se-Gresik. (UMY HANY AKASA/RADAR GRESIK)

Share this      

GRESIK - Perwakilan asosiasi pekerja se-Gresik dan aktivias mahasiswa di bawah Cipayung menggelar aksi atas kebijakan Permenkes 51 tahun 2018. Permenkes itu dianggap menyengsarakan pasien karena ada tambahan biaya.

Saat ini ada kebijakan baru yang diterapkan BPJS Kesehatan. Rinciannya,setiap kunjungan rawat jalan peserta BPJS dikenakan Rp 10 ribu, pada faskes tingkat C dan D. Untuk faskes A dan B ditarik Rp 20 ribu dan maksimal biaya rawat jalan Rp 350 ribu.

Perwakilan asosiasi pekerja Gresik, Abdul Hakam mengatakan, beban tambahan biaya itu membuat image BPJS tidak profesional. “Dulu saya menerima manfaat Jamsostek, pelayanan baik, tidak ada rujukan, obat juga yang bagus. Sekarang pelayanan BPJS buruk. Bubar saja, dari awal berdiri sudah bikin ruwet,” ungkap Hakam.

Dikatakannya, sebagaimana amanat UUD 45 pasal 28H  bahwa setiap orang berhak memperoleh pelayanan kesehatan-jaminan sosial. “Lalu mengapa masih ada tambahan biaya rawat jalan lagi jika dalam UUD. Kirain sudah potong gaji bulanan selesai, ini masih bayar lagi. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga pula. Pas sakit ditagih bayar pengobatan lagi,” kata dia.

Selain ribet saat proses pengobatan, Hakam menilai, seharusnya BPJS sudah tidak lagi melakukan penarikan biaya. “Kalau bilang defisit, pemerintah bisa ambilkan dari Freeport, bea cukai dan atau tambahan tarikan bulanan cukup. Tidak usah minta tambah lagi pas proses pelayanan,” ungkapnya.

Erna Musrini juga mengaku kecewa dengan pelayanan BPJS. Beberapa warga bahkan enggan berobat karena pelayanan yang diberikan bermasalah. “Yang kecelakaan tidak mau berobat karena ya itu ditagih. Ada denda dan seterusnya. Kalau tidak dibubarkan, dicabut saja permenkesnya,” ungkap Erni. 

Plt Dinas Kesehatan (Dinkes) Gresik, dr Endang Puspitorini juga sependapat seharusnya tidak ada lagi tambahan biaya waktu proses pelayanan.  “Ribet juga. Kami rumah sakit fokus ke pelayanan, kalau ada tambahan biaya lagi bikin bingung kami. Belum hitungnya dan sebagainya,” kata Endang.

Terkait Permenkes 51/2018, Endang menjelaskan tambahan biaya hanya untuk rawat jalan. “PMK ini masih direvisi lagi, pihak rumah Sakit juga kebingungan dengan adanya tambahan biaya ini, untuk masalah penambahan biaya kami belum melakukan penarikan,” jelas Direktur RSUD Ibnu Sina tersebut.

Penarikan biaya RS saat ini hanya berlaku untuk naik kelas. Misalnya, kelas 1 naik ke kelas VIP dengan tambahan klaim sampai  75 persen tergantung dari penyakitnya.

Kepala BPJS Kesehatan Gresik, Greisthy E.L Borotoding  menjelaskan BPJS menerima masukan dari pemerintah daerah dan masyarakat sekitar. Diakui, banyak pihak yang ingin merevisi Permenkes 51/208. “Kalau ada saran mau diubah yang mana, nanti akan kami sampaikan karena  permenkes ini juga mengacu Perpres 42/2018 bahwa Kemenkes harus mengeluarkan kebijakan-kebijakan termasuk Permenkes 51/2018,” jelasnya. (han/ris)

(sb/han/jay/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia