Senin, 17 Jun 2019
radarsurabaya
icon featured
Gresik
Mal Berdiri, Pengunjung Pasar Merosot

Penjualan Anjlok, Pedagang Terancam Gulung Tikar

20 Februari 2019, 17: 50: 00 WIB | editor : Wijayanto

KIOS TUTUP: Sejumlah stand pakaian di lantai 2 Pasar Kota banyak yang tutup sejak 3 bulan terakhir.

KIOS TUTUP: Sejumlah stand pakaian di lantai 2 Pasar Kota banyak yang tutup sejak 3 bulan terakhir. (YUDHI DWI ANGGORO/RADAR GRESIK)

Share this      

GRESIK - Belasan pedagang di Pasar Kota dan Pasar Baru Gresik menutup usahanya sejak akhir 2018 lalu. Itu terjadi karena pengunjung pasar turun, daya beli masyarakat juga terimbas. Penyebab lainnya, munculnya dua mall baru awal tahun ini.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, sedikitnya 30 stand pasar kota yang dijual oleh pemiliknya. Sebagianbesar pemilik beralasan, menjual stand karena penjualan yang terus turun.

Maftuhin Sholeh, perwakilan pedagang Pasar Kota mengatakan, sejak beroprasinya mall baru di Gresik, jumlah pengunjung pasar ikut merosot. Ini berimbas pada pendapatan pedagang terus turun. "Pengunjung sekarang lebih memilih berbelanja ke mall dibandingkan ke pasar tradisional," jelas dia.

Dikatakan, sebelum ada mall, para pedagang dalam sehari bisa membawa uang Rp 800 ribu hingga Rp 1 juta. Namun saat ini sudah dapat Rp 300 ribu untung-untungan. "Setelah kami cek harga barang di pasar tradisional dan mall memang sangat tipis selisihnya. Ini yang membuat banyak konsumen lari ke mall,” ujarnya.

Dia berharap, pemerintah bisa merespon keluhan pedagang dengan merubah perwajahan pasar tradisional dari yang awalnya kumuh menjadi sedikit lebih modern. Selain itu, dia juga menuntut agar pemerintah melakukan moratorium terhadap ritel modern di Gresik.

“Sampai saat ini pasar identik dengan pengap, kumuh dan bau. Ini harus dirubah, jika tidak banyak pemilik stand yang akan memindah tangankan kiosnya. Bahkan menjual dengan harga murah asalkan balik modal awal,” katanya.

Staf UPT Pasar Kota, Harsono tidak menampik apabila keberadaan mall baru memberikan dampak pada tradisional. Kendati demikian dia mengklaim jumlahnya tidak besar. Sementara terkait banyaknya kios yang dipindahtangankan, dia menilai hal itu merupakan sebuah hal yang biasa dalam aktivitas perdagangan.

“Sebagai pengelola kami terus berupaya mengajak pedagang agar menghadirkan suasana berbelanja yang nyaman bagi pengunjung. Namun hal itu kurang mendapat respon. Masih ada saja pemilik kios yang menata barang dagangan seenaknya sehingga menimbulkan kesan kumuh dan pengap,” katanya. (fir/ris)

(sb/fir/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia