Jumat, 06 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Features Gresik
Komunitas Tuli Gresik (Kotugres)

Manfaatkan Gerakan Mulut, Mulai Kembangkan Skil

19 Februari 2019, 00: 39: 04 WIB | editor : Wijayanto

BAHAGIA: Kalau sudah bertemu dengan teman sesama anggota Kutugres mereka merasa terhibur.

BAHAGIA: Kalau sudah bertemu dengan teman sesama anggota Kutugres mereka merasa terhibur. (UMI HANY AKASA/RADAR GRESIK)

Share this      

Bermula dari kondisi yang sama, Komunitas Tuli Gresik (Kotugres) akhirnya terbentuk. Bertempat di Sidayu, 20 Januari lalu, komunitas yang seluruh anggotanya bisu dan tuli ini sering berkumpul dan bertemu untuk saling sharing berbagai persoalan.

 kasah-Wartawan Radar Gresik

Kelima perempuan tertawa di sudut ruangan UPT Resource Centre Dinas Pendidikan (Dispendik), kemarin. Tak ada suara yang terdengar dari mulut mereka.  Dalam berkomunikasi mereka hanya menggunakan tangan. Gerakan mulut diperjelas.

Mereka terlihat bahagia. Meski di sekitarnya melihat tingkah mereka aneh. “Itu Kotugres (komunitas tuli Gresik, Red),” kata Innik Hikmatin, inisiator pembentukan Kotugres.

Radar Gresik pun mencoba berkomunikasi dengan para anggota Kotugres. Mereka menyambut dengan bahagia . Mengajak komunikasi melalui tangan, gerakan mulut dan tulisan.  Berapa kali mereka memeluk dan mengarahkan untuk tetap berkomunikasi dengan gerakan mulut. “Senang kalau diajak omong. Pasti mereka berusaha menangkap suara meski tidak paham,” kata Innik.

Memiliki kekurangan tuli dan bisu memang berat. Banyak orang yang menyepelehkan. Namun, anggota Kutugres  tetap bangga dengan dirinya. Mereka berusaha mengoptimalknn gerakan mulut  supaya bisa lancar berkomunikasi. Gerakan mulut bagi mereka lebih efektif dibandingkan gerakan tangan. Karena tidak semua orang paham dengan gerakan tangan mereka.

“Umurku 37 tahun, aku  bekerja di pabrik dan baru menikah,” kata Kholifah, salah satu anggota Kotugres dengan gerakan mulut.  Sejak sering bertemu dengan anggotanya, Kotugres mulai mengurangi intensitas komunikasi melalui tangan. Mereka cenderung memanfaatkan gerakan mulut.

“Kalau tidak paham, ya menulis,” ungkap Ifa.  Dengan berusaha menangkap gerakan mulut,  keberadaannya mulai banyak yang menerima. Gerakan tangan dan menulis justru jadi kunci terakhir berkomunikasi jika lawan bicara sudah tidak paham dengan  gerakan mulutnya.

Ifa menjelaskan, saat ini sudah ada 30 anggota Kotugres. Mereka sering berkumpul di rumah Innik Hikmatin. Biasanya, mereka menggelar pelatihan seperti menjahit, merajut, membuat berbagai produk untuk dijual. “Beberapa produk sudah kami jual ke online. Alhamdulillah, bisa buat menutupi kebutuhan sehari-hari,” tulis Ifa di atas kerta putih. (*/han) 

(sb/han/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia