Senin, 23 Sep 2019
radarsurabaya
icon featured
Lifestyle Surabaya
Mengenal Amyotrophic Lateral Sclerosis

Otot Mengecil, Terdeteksi ketika Sudah Parah

17 Februari 2019, 23: 37: 11 WIB | editor : Wijayanto

DEGRADASI: Amyotrophic lateral sclerosis juga dikenal sebagai penyakit Lou Gehrig. Adalah sindrom yang melemahkan yang membuat penderita tidak bisa me

DEGRADASI: Amyotrophic lateral sclerosis juga dikenal sebagai penyakit Lou Gehrig. Adalah sindrom yang melemahkan yang membuat penderita tidak bisa menggunakan anggota tubuh mereka, dan kadang-kadang bahkan tidak dapat berbicara. (NET/WBRUR)

Share this      

SURABAYA - Di pengujung tahun 2018, pembuat karakter kartun Spongebob, Stephen Hillenburg, meninggal karena penyakit ALS (Amyotrophic Lateral Sclerosis). Rupanya, Stephen Hawking juga meninggal karena penyakit yang sama. Lalu, apa sebenarnya penyakit ALS ini? 

Ismaul Choiriyah-Wartawan Radar Surabaya

Dokter spesialis saraf Rumah Sakit (RS) Adi Husada Undaan Wetan Surabaya dr. Frederik H. Moniaga, Sp.S memaparkan mengenai penyakit ALS ini. ALS merupakan kelompok penyakit di bidang saraf yang jarang. Karena melibatkan sel saraf yang berfungsi untuk mengontrol gerakan otot volunter atau otot yang bertujuan.

"Mengganggu otak yang digunakan untuk mengkoordinasikan gerakan, misalnya menelan, berbicara, mengambil, mengunyah," ungkap dr. Frederik.

Lebih lanjut ia menjelaskan, penyakit ini sifatnya progresif. Artinya, semakin bertambah waktu, akan bertambah berat. Sampai saat ini, belum ada pengobatan efektif untuk menghambat dan menyembuhkan penyakit tersebut.

Hingga saat ini, lanjut dia, belum ada penyebab yang pasti mengenai penyakit ini. ALS juga bisa dikatakan sebagai penyakit yang sangat jarang. Namun kebanyakan terjadi pada orang di usia 55 hingga 75 tahun, serta didominasi oleh laki-laki. Di antara ras lain, penyakit ini lebih sering menyerang ras Kaukasian.

Studi menjelaskan, veteran perang dua kali berisiko terhadap penyakit ini. "Penyebabnya juga belum begitu jelas, tapi kemungkinan karena faktor risikonya karena terpapar timbal," ungkapnya. 

Dokter Frederik menjelaskan, penyakit ini menyerang motor neuron yang terletak di otak dan sumsum tulang belakang. Penyebabnya adalah degenerasi dan kematian sel saraf.

Pada orang yang mengalami ALS, upper motor neuron dan lower motor neuron mati. Akibatnya, sel saraf itu tidak bisa memberikan sinyal ke otot. "Sehingga menyebabkan gangguan fungsi perlahan-lahan, otot mulai lemas, menjadi atrofi atau mengecil," paparnya. 

Gejala awal dari penyakit ALS adalah adanya kelemahan dan kekakuan. Biasanya, gerakan volunter yang langsung terdampak. Pasien bisa dengan tiba-tiba sulit berbicara, sulit makan maupun bergerak hingga bernapas.

Gejala awal ALS kebanyakan muncul pada lengan. Pasien akan kesulitan melakukan sesuatu yang sederhana, seperti kesulitan membuka tangan, membuka kunci maupun menulis. Beberapa yang lain terjadi di tungkai. Yang seperti ini, pasien akan mengeluh berjalan sulit, seperti jatuh. 

Kelompok lain, gejala lain adalah sulit menelan. Sayangnya, penyakit ini kerap didiagnosis terlambat. Pasien mengetahui ketika penyakit sudah mulai parah. Itu yang kemudian menjadi masalah. 

Frederik menegaskan, penyakit ini jauh berbeda dengan stroke. Karena stroke, gangguan bisa hanya separuh, sementara ALS di keseluruhan tubuh. 

Dokter Frederik mengungkapkan, kebanyakan dari pasien ALS meninggal karena gangguan napas. Hal itu terjadi dalam waktu dua atau tiga tahun setelah penyakit terdiagnosis.

Penyebabnya, otot pernapasan yang semakin melemah, sehingga tubuh kekurangan oksigen. Diperparah dengan komplikasi lain yang disebabkan oleh terbatasnya gerakan pasien. "Gangguan napas inilah yang bisa jadi dialami Stephen Hawking dan Sephen Hillenburg hingga meninggal," ujarnya. (is/opi) 

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia