Kamis, 27 Jun 2019
radarsurabaya
icon featured
Features

Filantropi Islam Solusi Pengentasan Kemiskinan

16 Februari 2019, 07: 40: 55 WIB | editor : Wijayanto

CINDERA MATA: Silaturahmi tim ACT ke Lajnah Tanfidziyah Syarikat Islam (SI) di Jakarta.

CINDERA MATA: Silaturahmi tim ACT ke Lajnah Tanfidziyah Syarikat Islam (SI) di Jakarta. (ISTIMEWA/ACT)

Share this      

JAKARTA – Kemiskinan masih menjadi permasalahan utama di dunia, termasuk di Indonesia. Berdasarkan data dari Bank Dunia, tercatat tahun 2017 terdapat 10,7 persen atau sekitar 767 juta orang dari populasi global berada dalam jurang kemiskinan. 

Badan Pusat Statistik (BPS) pada September 2018 mencatat jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai 25,67 juta orang, atau hampir 10 persen dan total populasi yang mencapai 267 juta jiwa (BPS 2018). Salah satu solusi pengentasan kemiskinan di Indonesia maupun dunia adalah dengan membangkitkan aktivitas sosial dan ekonomi dalam artian filantropi Islam.

“Di Indonesia kalau kita pakai ukuran BPS itu sekitar 10 persen masyarakat Indonesia hidup dalam kemiskinan. Kalau menurut Bank Dunia, angka kemiskinan kita sekitar 40 persen, tinggi sekali. Ini masalah besar bagi kita semua, khususnya umat Islam. Filantropi menjadi solusi kemiskinan yang kita hadapi,” kata Hamdan Zoelva saat menerima kunjungan silaturahmi dari Aksi Cepat Tanggap (ACT) pada Rabu (13/2) lalu.

PAPARAN: Vice President Aksi Cepat Tanggap (ACT) Iqbal Setyarso.

PAPARAN: Vice President Aksi Cepat Tanggap (ACT) Iqbal Setyarso. (ISTIMEWA/ACT)

Ketua Umum Pimpinan Pusat/Lajnah Tanfidziyah Syarikat Islam (SI) ini menuturkan, permasalahan kemiskinan tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga sangat dirasakan terutama di negara-negara konflik. Kehidupan mereka semakin sulit karena konflik yang berkepanjangan. 

Namun untuk di Indonesia, menurut dia, kemiskinan masih berada di angka yang cukup tinggi. Permasalahan inilah yang juga menjadi konsen SI sebagai salah satu organisasi tertua di Indonesia yang sudah berdiri sejak tahun 1905 dengan nama Sarekat Dagang Islam (SDI). 

Sejak berdiri, SI memang bertujuan untuk mengembangkan perekonomian dan kehidupan sosial umat. Walaupun tahun 1912 di bawah pimpinan HOS Tjokroaminoto, SI pernah terlibat ke arah politik. Namun saat ini di bawah pimpinan Hamdan Zoelva, SI kembali ke khittahnya berjuang di bidang ekonomi, sosial dan keagamaan. 

Hamdan yang juga pernah menjabat sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi Keempat periode 2013-2015 menyebutkan, filantropi Islam seperti wakaf, zakat, infak, dan sedekah dapat mengatasi masalah umat dan kemanusiaan. Bukan hanya untuk tujuan perseorangan.

“Inilah inti dari ajaran Islam. Kenapa kita diwajibkan zakat dan dianjurkan sedekah dan wakaf karena dijanjikan kalau menanam satu akan tumbuh 700 untuk yang melakukan. Inilah kenapa kita dorong karena tentu sangat bermanfaat dan efeknya luar biasa untuk pemberdayaan umat dan pemberantasan kemiskinan,” lanjut Hamdan.

Dia menjelaskan, salah satu upaya pengentasan kemiskinan tersebut adalah melalui pengembangan dana wakaf sebagai filantropi tertinggi dalam Islam. “Kalau kita kembangkan dana wakaf, ini akan terus berputar untuk umat dan bermanfaat  bagi umat. Ini pelan-pelan dan pasti akan mengatasi masalah kemikinan di Indonesia karena kita libatkan bersama-sama masyarakat. Hasil pengelolaan wakaf produktif itu tidak untuk perseorangan tapi untuk investasi dan diputar untuk usaha produktif,” ungkapnya.

Pendapat Hamdan ini diamini oleh Iqbal Setyarso selaku Vice President Aksi Cepat Tanggap (ACT). Menurutnya, sebagai ikhtiar menjadikan filantropi Islam sebagai solusi pengentasan kemiskinan dan permasalahan lainnya yang dihadapi umat Islam, ACT tahun ini mengusung tema The Rise of Islamic Filantrophy (TRIP).

“Alhamdulillah, ACT sudah berikhtiar membantu sesama muslim dan yang membutuhkan sejak lembaga ini berdiri. Hingga saat ini, sudah ribuan penerima manfaat yang merasakan bantuan dari ACT. Kita juga punya program pemberdayaan masyarakat dengan wakaf melalui program-program dari Global Wakaf,” ucap Iqbal. (act/jay)

(sb/jpc/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia