Jumat, 15 Nov 2019
radarsurabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Surabaya

Keluarga Tetap Yakin Ada Tanda Kekerasan di Tubuh Korban

12 Februari 2019, 23: 56: 56 WIB | editor : Wijayanto

BERDARAH: Keluarga menunjukkan foto korban saat ditemukan meninggal dunia.

BERDARAH: Keluarga menunjukkan foto korban saat ditemukan meninggal dunia. (DOK/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Keluarga korban dugaan pembunuhan, Nadifa Dwi Lestari,15, masih tetap yakin jika kematian korban tak wajar. Sebab berdasarkan hasil otopsi ditemukan bekas luka benda tumpul di mulut dan kepala bagian belakang korban yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT) di Jalan Simolangit 3, Sawahan, Surabaya.

Satreskrim Polrestabes Surabaya yang menerima laporan keluarga korban masih mendalami kasus ini.

Saat dikonfirmasi, paman korban Supriyono masih tetap yakin ada bukti atau fakta yang disembunyikan di balik kematian Nadifa. Selain proses pengurusan mayat yang tanpa persetujuan pihak keluarga, adanya hasil otopsi dari dokter semakin membuat mereka yakin jika korban meninggal bukan karena bunuh diri seperti kesimpulan awal. 

"Tidak mungkin korban mati mendadak tanpa sebab. Apalagi setelah kami dapati ada dua luka di kepala dan bibir korban. Kami yakin ada kekerasan sebelumnya," ungkapnya, Selasa (12/2).

Supriyono mengatakan untuk mengungkap penyebab kematian, pihaknya tak bisa berbuat banyak. Sebab pihaknya tak bisa melaporkan kasus itu ke Polsek Sawahan. Karena sebelumnya majikan korban sudah melaporkan kejadian itu terlebih dahulu.

"Hingga saat ini kami tak tahu bagaimana kronologis kematian dan bagaimana saat korban ditemukan," terangnya. 

Di sisi lain, sumber internal kepolisian menyebut jika darah yang keluar di hidung dan luka di leher korban merupakan hal wajar. Seperti pembusukan organ. Diduga kuat jika korban sakit. Namun hal itu dibantah oleh Supriyono. Menurutnya, korban sudah bekerja di lokasi itu selama 22 bulan. "Selama itu korban tak pernah mengeluh sakit apapun," terangnya.

Terpisah Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Sudamiran mengatakan jika pihaknya tak ingin gegabah menyimpulkan penyebab kematian korban. Termasuk adanya dugaan korban dibunuh. Sebab untuk mengarah ke sana diperlukan minimal dua alat bukti. 

"Ya intinya kami akan tetap dalami hingga kasus ini rampung. Kami tak bisa menduga-duga sedangkan kami belum mengumpulkan bukti-bukti di lapangan," terangnya. 

Sementara itu, meski sempat berkelit namun Kanitreskrim Polsek Sawahan AKP Haryoko Widhi membenarkan kasus kematian korban. Haryoko juga tak menampik perihal kecurigaan kematian korban yang tak wajar. 

"Atas dasar itu, kami sudah ada 15-17 saksi yang diperiksa. Memang ada kecurigaan indikasi kekerasan yang diterima korban dari keluarga. Namun belum bisa dipastikan korban pembunuhan," ujar Haryoko Widhi.

Namun, disinggung perihal siapa saja saksi-saksi yang sudah diperiksa, Haryoko enggan membeberkannya lebih jauh. Hanya saja ada benerapa yang ia sebutkan, seperti majikan korban dan penghuni rumah serta dokter yang memeriksa korban partama kali.

"Setelah kami tahu hasil otopsi kami langsung bekerja melakukan penyelidikan. Namun memang kami belum mendapatkan petunjuk yang mengarah ke pelaku," terangnya.

Haryoko juga menampik telah menolak laporan keluarga korban. Sebab pihaknya sudah menangani kasus dugaan pembunuhan itu. "Kami sudah jungkir balik melakukan penyidikan tapi kami juga belum menemukan petunjuk. Intinya kami sudah bekera bukan lepas tangan terkait kematian korban," ungkapnya. 

Untuk diketahui, Nadifa merupakan PRT asal Malang yang bekerja di rumah Jalan Simolangit nomor 3. Dia ditemukan tewas pada September 2018 lalu. 

Belakangan kondisi kematian korban yang diklaim pihak kepolisian hanya mati mendadak mendapat protes dari keluarga korban. Sebab hasil otopsi menunjukkan ada luka di mulut dan kepala belakang korban. (yua/jay)

(sb/yua/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia