Rabu, 23 Oct 2019
radarsurabaya
icon featured
Iso Ae

Suami Bangkrut, Cinta pun Kukut

09 Februari 2019, 01: 48: 14 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi Iso Ae

Ilustrasi Iso Ae (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

Share this      

Seorang hakim pernah memberikan wejangan seputar pernikahan. Agar hubungan pernikahan bisa langgeng, ada dua hal yang harus dipegang. Yang pertama adalah memilih pasangan yang seimbang. Seimbang dalam hal ekonomi, misalnya. Setelah itu terpenuhi, baru yang ke dua. Yakni saling pengertian dan menerima.  

Ismaul Choiriyah-Wartawan Radar Surabaya 

Katanya, yang kedua itu, paling penting di antara yang penting. Karena seimbang saja, tapi tak dibarengi sikap pengertian, ujung-ujungnya juga malah jadi masalah. Ya seperti yang dialami Karin, 42, ini.

Di ruang tunggu Pengadilan Agama (PA) Klas 1A Surabaya, di penghujung minggu lalu, Karin menceritakan semuanya. Dengan perasaan menyesal, ia memutuskan u berpisah dari Donwori. Alasannya karena Donwori bangkrut. Mungkin alasan Karin terdengar sangat milenial dan matre sekali. Namun, begitulah adanya. Sejak kecil hidup Karin selalu bahagia. Tak pernah susah. Sekali pun. 

Kata Karin, dulunya Donwori adalah pebisnis yang sukses. Keluarganya juga berasal dari keluarga mampu. Itulah mengapa tak susah bagi Donwori untuk merebut hati orang tua Karin di awal menikah dulu. Sejak awal menikah hingga anak-anaknya sudah dewasa, hidup Karin dan Donwori damai-damai saja. Hingga tiga tahun lalu, karena salah perhitungan, bisnis Donwori bangkrut. "Habis, habis semua dijual sama dia. Kita pindah ke rumah yang cuma berapa petak, home theater aja gak ada, Mbak. Bayangin aja," keluh perempuan yang kini tinggal di Tegalsari ini. 

Kemewahan yang dulunya jadi hal remeh temeh pun, kini tak bisa Karin dapatkan. Boro-boro mau liburan ke luar negeri, makan enak di restoran bagus pun tak pernah dikasih oleh Donwori. Sekali pun jalan-jalan, ia pasti jalan-jalan dengan temannya. Dan tentu saja sembunyi-sembunyi agar Donwori tak tahu. Semua serba baru bagi Karin. 

Sejak kebangkrutan suaminya itu, sebenarnya Karin sudah mencoba menekan gaya hidupnya selama ini. Ia belajar menekan keinginannya kumpul-kumpul dengan teman arisan. Ia coba untuk tak tergiur dengan baju dan perhiasan mahal. Tapi agaknya, hidup susah bukan hobinya. Bukan juga budaya yang ia bawa sejak kecil. Alhasil, tak lama, ia kembali lagi ke kebiasaan lama. Hal ini lah yang memicu panasnya percekcokan dalam rumah tangganya. 

"Dia itu keras kepala. Sudah tak bilangin gak apa-apa pinjem uang keluargaku dulu, dia gak mau. Masih sombong. Ketinggian harga dirinya itu," curhat Karin yang wajahnya sangat babyface itu. Tak heran, pasti wajahnya selalu dirawat dengan produk-produk kecantikan high end. 

Dari perbedaan cara menyelesaikan masalah dibarengi sikap kurang pengertian inilah, rumah tangga Karin semakin panas. Hingga ia tak tahan lagi. "Diberi solusi enak, wong tinggal minjem apa salahnya. Lah gak mau. Aku mau hidup susah terus seperti ini, ya gak bisa," tukasnya. (*/opi) 

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia